PENDEKATAN MONETER INTERNASIONAL
DOSEN PENGAMPUH :
AHMAD FATHUR ROZI,MM
Di Susun Oleh :
Rezka Titin Porwati 18042053
Erin Novita Sari 18042041
Roudhotul Farikha 18042038
Rizal Zamroni 18042044
Dzonnuar Yudha Prawira 18042002
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN
PRODI MANAJEMEN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami kanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “MEMAHAMI SISTEM MONETER INTERNASIONAL” disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “BISNIS INTERNASIONAL” yang diampu oleh Bapak Muhammad Hafidh Nasrullah.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan makalah ini. Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan kemampuan, pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh sebab itu kami selalu terbuka untuk menerima berbagai kritik dan saran yang membangun kita lebih maju dan berkembang menjadi lebih baik, sehingga kami dapat memperbaiki isi makalah ini serta kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama pembaca. Amin.
Lamongan, 01 November 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
Daftar Isi ii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
BAB II : PEMBAHASAN
Pendekatan Moneter Terhadap neraca pembayaran 3
Mekanisme moneter dari penyesuaian neraca pembayaran 4
Devaluasi pendekatan moneter 7
Pilihan portofolio dalam perekonomian terbuka 8
Pertumbuhan, inflasi, dan rekening uang 10
Ekspetasi perubahan nilai tukar mata uang, tingkat bunga, dan krisis nilai tukar mata uang luar negeri 12
Pendekatan pasar aset dan teori neraca pembayaran jangka pendek 13
Pendekatan elastisitas, absorsi, dan moneter terhadap neraca pembayaran 14
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan 16
Saran 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada modul sebelumnya, dua dekade setelah keruntuhan sistem Bretton Woods masih tetap berlangsung perdebatan mengenai bagaimana bentuk regime kurs mata uang yang terbaik bagi dunia. Sebagian ahli ekonomi memelopori sistem ketika mata uang utama dibiarkan mengambang satu sama lainnya. Sementara itu, ahli ekonomi lainnya berpendapat bahwa lebih baik kembali ke sistem kurs tetap yang mirip dengan sistem Bretton Woods.
Hal ini akan memberikan implikasi dari seluruh bisnis internasional ini, terutama mengenai kebijaksanaan mata uang terhadap praktik bisnis. Kasus nyata, misalnya, kebijakan Pemerintah Meksiko pada Desember 1994 untuk membiarkan peso mengambang secara bebas terhadap dolar US mengakibatkan terjadinya depresiasi nilai dolar dari peso sebesar 40%. Jelas, hal ini sangat merugikan perusahaan-perusahaan yang mengimpor mobil atau suku cadang mobil dari Amerika Serikat (AS) ke Meksiko. Ini menunjukkan betapa rentannya bisnis internasional terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan kurs tukar. Pada saat yang bersamaan, kasus ini mengilustrasikan
bagaimana kebijakan pemerintah tentang kurs dapat menciptakan peluangpeluang bisnis. Dalam jangka panjang, harga peso yang lebih murah akan meningkatkan daya saing dan potensi ekspor dari pabrik-pabrik manufaktur mobil yang berbasis di Meksiko (Rusdin, 2002).
Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja sistem moneter internasional dan untuk menunjukkan implikasinya terhadap bisnis internasional. Untuk memahami bagaimana cara kerja sistem moneter internasional, kita harus mengkaji evolusi dari sistem tersebut.
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN
PENDEKATAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pengembangan pendekatan moneter secara modern terhadap neraca pembayaran dikembangkan antara tahun 1950—1960 oleh IMF, University of Chicago, dan London School of Economics. Studi awal dilakukan oleh Robert Mundell, Harry Johnson, dan J.J. Polak. Generasi berikutnya itu termasuk Rudiger Dornbusch, Jacob Frenkel, Arthur B. Laffer, Michael Mussa, dan masih banyak yang lainnya.
Pendekatan moneter menekankan bahwa neraca pembayaran mencakup fenomena moneter. Masalah neraca pembayaran bukan berarti hanya fenomena moneter, yang dimaksud dalam hal ini adalah peranan uang dalam neraca pembayaran sangat esensial. Pertimbangan moneter dalam neraca pembayaran sangat perlu dalam studi ekonomi terbuka dan neraca pembayaran.
Pasar uang dalam kondisi keseimbangan berarti perubahan permintaan uang kas nominal ((MD) sama dengan perubahan penawaran uang kas nominal ((MS) seperti berikut ini (Firman, 2006).
Persamaan (1)
(MD=(MS
Perubahan pendapatan, tingkat bunga, dan faktor lainnya akan mempengaruhi permintaan uang kas nominal. Misalnya, jika pendapatan individu semakin tinggi, individu tersebut menginginkan aset moneter yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika tingkat bunga semakin tinggi, aset yang menghasilkan bunga semakin tinggi dan permintaan uang kas nominal semakin rendah. Perubahan penawaran uang proporsional dengan perubahan high-powered money ((H), yaitu penjumlahan perubahan cadangan internasional dari bank sentral ((IR) dan perubahan kredit bank sentral ((CBC), sebagai berikut.
Persamaan (2)
(MS=
Konsep neraca pembayaran yang digunakan dan yang relevan dengan proses penawaran uang adalah rekening uang dalam neraca pembayaran (), yaitu . Persamaan (2) dapat dituliskan menjadi berikut ini.
Persamaan (3)
Surplus atau defisit rekening uang berhubungan dengan penciptaan kredit bank sentral sebagai sumber perubahan penawaran uang. Substitusi persamaan (3) ke (1) diperoleh sebagai berikut.
Persamaan (4)
Maka itu, neraca pembayaran dapat didefinisikan menjadi berikut ini.
Persamaan (5)
Persamaan (5) menjelaskan jika berarti perubahan permintaan uang kas nominal lebih besar daripada perubahan kredit bank sentral. Sebaliknya, berarti perubahan kredit bank sentral lebih besar dari perubahan permintaan uang . Persamaan (5) berarti penawaran uang yang diciptakan bank sentral pada periode tertentu yang tidak diminta oleh penduduk domestik akan mempengaruhi defisit neraca pembayaran. Penduduk domestik yang mempunyai kelebihan kas akan membeli barang atau aset luar negeri dengan menggunakan mata uang luar negeri. Penduduk domestik akan menjual mata uang domestik untuk membeli mata uang internasional. Akibatnya, bank sentral akan kehilangan cadangan internasional, rekening uang kas mengalami defisit, dan akhirnya neraca pembayaran defisit dalam mata uang domestik. Kelebihan uang kas nominal yang dipegang oleh penduduk domestik dapat digunakan untuk membeli barang dan aset luar negeri sehingga neraca pembayaran mengukur pembelian barang luar negeri secara neto dan aset luar negeri secara neto seperti berikut.
Persamaan (6)
adalah masing-masing definisi dari neraca perdagangan dan neraca modal. Dari penjelasan di atas, pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran, jika hanya mencakup fenomena moneter, tidak mencukupi karena aktivitas program keuangan pemerintah tidak dimasukkan sebagai variabel yang penting dalam pembahasan neraca pembayaran.
MEKANISME MONETER DARI PENYESUAIAN NERACA PEMBAYARAN
Gangguan-gangguan ekonomi internasional dalam jangka panjang akan mempengaruhi faktor-faktor moneter yang respek terhadap neraca pembayaran. Misalnya, perubahan harga, tingkat bunga, pengangguran, output, dan berbagai faktor lainnya yang berhubungan. Dengan asumsi bahwa suatu negara adalah price taker dalam perdagangan barang dan aset luar negeri, harga barang domestik ekuivalen dengan harga luar negeri dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, absorpsi domestik riil , yaitu pengeluaran untuk barang domestik dan luar negeri, dipengaruhi oleh aset yang dipegang oleh penduduk domestik seperti berikut.
Persamaan (7)
masing-masing adalah absorpsi otomatis, output agregat riil, tingkat bunga domestik nominal, serta wealth dan indeks harga domestik, masing-masing parameter positif yang menjelaskan bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang tinggi serta tingkat bunga yang rendah mendorong peningkatan pengeluaran domestik riil. Pendekatan wealth dalam penentuan pengeluaran domestik disarankan oleh . Pigou yang dikenal dengan efek. Pigou. Misalnya, konsumsi penduduk yang telah pensiun dibiayai oleh aset atau wealth yang dikumpulkan selama hidup. Misalkan, aset yang dipegang oleh penduduk adalah aset moneter sehingga W/P = M/P. Dalam kasus ini, perdagangan internasional dalam aset nonmoneter diabaikan sehingga neraca modal tidak muncul dan neraca pembayaran sama dengan neraca perdagangan. Oleh sebab itu, penyesuaian neraca pembayaran dengan aset berupa uang dan penghilangan pengaruh tingkat bunga (tidak adanya substitusi antara uang dan obligasi) sebagai berikut.
Persamaan (8)
Output riil sama dengan output potensial dan P ditentukan oleh harga internasional P. Secara grafis, mekanisme penyesuaian moneter secara murni terhadap neraca perdagangan sebagai berikut.
Gambar 7.1
Garis menjelaskan hubungan positif antara wealth dan pengeluaran konsumsi. Itu artinya peningkatan saldo kas riil yang dipegang oleh penduduk akan meningkatkan pengeluaran konsumsi, sedangkan yang lainnya konstan. Garis horizontal menjelaskan tingkat absorpsi dan hubungannya dengan tingkat output atau pendapatan pada full-employment. Defisit atau surplus neraca perdagangan ditentukan oleh jarak vertikal antara garis AA dan garis. Jarak titik B-C menjelaskan defisit neraca perdagangan suatu perekonomian karena absorpsi lebih besar dari tingkat pendapatan atau output pada full-employment atauT = Y – A. Pada posisi defisit neraca perdagangan, aset moneter selalu lebih besar dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih besar dari tingkat pendapatan atau output agregat. Pembiayaan kelebihan pengeluaran ini akan mengurangi aset yang dipegang dan mengurangi saldo moneter. Jika diasumsikan bank sentral pasif, penawaran uang akan berkurang. Sebaliknya, surplus neraca perdagangan dijelaskan oleh aset moneter selalu lebih kecil dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih kecil dari tingkat pendapatan atau output agregat. Oleh sebab itu, keseimbangan eksternal ditunjukkan oleh titik E seperti berikut.
Persamaan (9)
Ae adalah tingkat absorpsi domestik pada tingkat saldo kas riil domestik (M/P)e. Dari persamaan (9), diperoleh stok uang kas riil pada keseimbangan eksternal sebagai berikut.
Persamaan (10)
Persamaan (10) ini menjelaskan permintaan uang kas riil dalam jangka panjang atau target jumlah uang kas riil yang beredar. Masalahnya, berapa lama penyesuaian moneter mencapai external balance? Hal ini tergantung pada seberapa cepat penduduk domestik menyesuaikan saldo uang kas mereka. Dengan asumsi bank sentral bertindak pasif, perubahan saldo uang kas terjadi melalui neraca perdagangan, yaitu neraca perdagangan merupakan kelebihan atas absorpsi domestik berikut.
Persamaan (11)
Karena persamaan (10) menjelaskan e dan substitusi ke-(k) diperoleh berikut ini.
Persamaan (12)
Persamaan (7) menjelaskan bahwa penyesuaian dalam wealth moneter dalam kasus neraca perdagangan merupakan perbedaan proporsi antara keseimbangan stok uang jangka panjang yang dipegang (M/P)e dengan stok uang aktual yang dipegang waktu tertentu (M/P). Penyesuaian jangka panjang ini disebut stock adjustment mechanism yang menjelaskan bagaimana penduduk domestik merespons ketidakseimbangan temporer sektor moneter. Persamaan (7) menunjukkan dua faktor menentukan speed perubahan yang terjadi dalam aset moneter berikut.
Perbedaan antara stok uang aktual (M/P) dan stok uang yang diinginkan (M/P)e. Semakin besar perbedaan (M/P) dengan (M/P)e, semakin lama penyesuaian keseimbangan neraca perdagangan.
Nilai parameter : dari persamaan (12) ditunjukkan bahwa menjelaskan fraksi dari perbedaan stok uang yang diinginkan dengan stok uang aktual. Semakin besar ., semakin cepat penyesuaian terhadap keseimbangan jangka panjang.
Persamaan (11) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap output potensial (YF), absorpsi otomatis (A), atau penawaran uang riil (W/P) akan mengganggu keseimbangan neraca perdagangan dan neraca pembayaran suatu perekonomian.
DEVALUASI PENDEKATAN MONETER
Tingkat harga umum domestik menjelaskan biaya pembelian sekelompok barang oleh konsumen domestik. Harga domestik (P) dipengaruhi oleh pembelian komoditas yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor . Persamaannya sebagai berikut.
Persamaan (13)
P = +
adalah pangsa konsumsi domestik yang dapat diekspor, sedangkan adalah pangsa konsumsi yang dapat diimpor. Jika suatu negara adalah price taker, harga impor sama dengan harga impor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik dan harga ekspor sama dengan harga ekspor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik , yaitu [P*M dan P*X] dalam nilai mata uang asing. Berdasarkan proposisi tersebut, harga domestik sebagai berikut.
Persamaan (14)
Dari persamaan (14), diketahui bahwa devaluasi peningkatan e (nilai mata uang domestik) akan meningkatkan harga domestik, P. Konsekuensinya, nilai saldo uang kas riil turunpadakeseimbangan awal yang dijelaskan pada gambar berikut. Penurunan aset moneter riil dari (M/P)e ke tingkat yang lebih rendah menyebabkan penurunan pengeluaran domestik. Oleh sebab itu, devaluasi pada awalnya akan meningkatkan surplus neraca perdagangan, yaitu sebesar . Surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran akan mendorong penawaran uang sehingga surplus neraca tersebut akan hilang karena absorpsi naik sampai surplus tersebut habis pada (M/P)e. Walaupun harga domestik naik akibat devaluasi, harga relatif ekspor dengan impor internasional (P*X/P*M) tidak terpengaruh. Devaluasi akan meningkatkan harga ekspor dan impor dalam mata uang domestik dengan proporsi yang sama sebagai berikut.
Hal ini merupakan salah satu outcome dari pendekatan moneter yang harga relatif domestik antara impor dan ekspor tidak berubah. Akibatnya, dalam jangka panjang, neraca perdagangan atau pembayaran kembali seimbang. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 7.2
PILIHAN PORTOFOLIO DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA
Penduduk domestik dapat memegang wealth moneter atau aset finansial, uang (M/P), dan obligasi (V) sebagai berikut.
Persamaan (15)
W / P = M / P + V
Ada dua keputusan yang dibuat dalam hal-hal berikut. (1) Berapa ukuran portofolio (berapa banyak wealth yang harus dipegang) dan (2) bagaimana komposisi aset yang dipegang (tipe aset yang akan dipegang).
Gambar berikut ini menjelaskan absorpsi dan kondisi full employment, yaitu wealth mencakup aset nonmoneter. Ukuran portofolio yang diinginkan penduduk domestik adalah (W/P)e. Pada titik E, tingkat wealth sebesar (W/P)e pendapatan sama dengan absorpsi dan neraca perdagangan seimbang. Jika total wealth yang diinvestasikan sebesar (W/P)e, kombinasi obligasi dan uang dijelaskan oleh garis slope negatif yang dinamakan wealth constraint line. Persamaan garis ini adalah (W/P)e = M/P + V atau persamaan (16).
Persamaan (16)
V=(W / Pe – M / P )
Pada tingkat (W/P)e tertentu, peningkatan obligasi terjadi jika uang kasriil yang dipegang turun, (W/P)e = M/P maka V = 0 (titik potong pada garis horizontal) dan (W/P)e = V sehingga M/P = 0 (titik potong pada garis vertikal). Kombinasi lain antara uang dan obligasi terjadi pada wealth constraint line. Investor melakukan diversifikasi aset dengan pertimbangan risiko, return, dan karakteristik lainnya. Berdasarkan karakteristik ini, proporsi obligasi terhadap uang ditunjukkan oleh parameter y berikut.
Persamaan (17)
V = ( M/P )
Diasumsikan y tetap karena dipengaruhi oleh faktor lainya, misalnya tingkat bangsa. Misalnya = 2, persamaan (17) menjadi V = 2 (M/P), artinya setiap rupiah dalam aset moneter nilai obligasi yang dipegang sebesar 2. Pada gambar berikut ini terlihat bahwa slope persamaan (17) adalah y dan positif yang disebut portfolio diversification line.
Gambar 7.3
` Secara umum, penduduk domestik akan memegang obligasi dan uang.Obligasi dapat terdiri atas obligasi domestik dan luar negeri. Kembali ke konsep dasar neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (18)
Pada seksi ini, diabaikan. Misalkan, terjadi peningkatan penawaran uang secara tiba-tiba dengan cara pencetakan uang baru. Ada dua kemungkinan mekanisme untuk mengubah uang kas yang dipegang. Pertama, membeli barang atau komoditas luar negeri. Mekanisme ini akan mengakibatkan defisit neraca perdagangan dan dengan sendirinya mengurangi ukuran total portofolio. Neraca perdagangan defisit menyebabkan pengurangan total aset domestik melalui portfolio size adjustment mechanism. Kedua, kelebihan uang digunakan untuk membeli obligasi atau aset luar negeri yang ditunjukkan oleh defisit neraca modal.Penukaran uang dengan mencakup aset luar negeri tidak mengubah ukuran total portofolio, hanya mengubah komposisi uang dan obligasi (uang makin kecil dan obligasi makin besar). Kedua mekanisme di atas dapat digunakan untuk menghilangkan kelebihan saldo uang kas.
Mekanisme komposisi portofolio biasanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat pendek,sedangkan mekanisme ukuran portofolio terjadi dalam jangka waktu yang panjang karena terjadi melalui perubahan relatif antara pengeluaran dan pendapatan. Hal ini merupakan perbedaan utama antara portfolio size mechanism dan portfolio composition mechanism. Pada gambar berikut, ditunjukkan keseimbangan penuh terjadi pada titik E dengan ukuran portofolio sebesar (W/P)e. Pada titik tersebut, jumlah obligasi sebesar Ve dan uang kas riil sebesar (M/P)e, titik C. Ketika bank sentral mencetak uang baru, uang kas riil naik dari (M/P)e ke sehingga stok aset keuangan naik dari (W/P)e ke . Pencetakan uang baru akan menyebabkan kelebihan uang kas yang dipegang dari titik C ke titik D. Titik D menjelaskan ketidakseimbangan portofolio karena terletak jauh di luar portfolio diversification line.
Gambar 7.4
Penduduk ingin mengubah komposisi portofolio dengan cara mengubah uang dengan obligasi dan menyebabkan defisit neraca modal, yaitu perpindahan dari titik D ke F. Penyesuaian saldo kas melalui transaksi modal
mengubah komposisi portofolio, sepanjang portfolio diversification line perekonomian tidak berubah ke tingkat ukuran portofolio yang diinginkan, titik F. Kelebihan uang kas secara aktual mengakibatkan penggantian uang dengan obligasi, yaitu total aset yang dipegang masih lebih tinggi dari tingkat yang diinginkan. Penyesuaian komposisi portofolio menjelaskan perekonomian berada pada tingkat yang lebih besar dari (W/P)e. Penyesuaian ukuran portofolio akan mengarah pada tingkat awal, yaitu dari titik E dan C. Artinya, pembelian bersih barang luar negeri akan menghabiskan kelebihan aset yang dipegang. Hal ini merefleksikan defisit neraca perdagangan yang dijelaskan perpindahan dari titik F ke titik C.
Mekanisme ukuran portofolio dan komposisi portofolio ini menyimpulkan bahwa mekanisme moneter dan nonmoneter dalam jangka panjang mengakibatkan perekonomian mencapai keseimbangan. Kelebihan uang kas akibat pencetakan uang baru akan habis dibelanjakan dan mengakibatkan neraca perdagangan dan pembayaran semakin buruk dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang kembali mengalami keseimbangan. Penyesuaian neraca pembayaran menjelaskan perubahan komposisi portofolio yang beroperasi melalui neraca modal dan perubahan ukuran portofolio beroperasi melalui neraca perdagangan yang mengakibatkan ukuran portofolio turun.
PERTUMBUHAN, INFLASI, DAN REKENING UANG
Pasar aset berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui rekening uang pada neraca pembayaran. Tingkat pertumbuhan uang dalam keseimbangan sebagai berikut.
Persamaan (19)
. Jika money multiplier berubah, pembayaran eksternal tidak seimbang dan penciptaan kredit bank sentral akan menambah penawaran uang. Efek terhadap pertumbuhan penawaran uang dijelaskan sebagai berikut.
Persamaan (20)
sehingga proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money sebagai berikut.
Persamaan (21)
menunjukkan proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money dipengaruhi oleh money multiplier dari penawaran uang dan pertumbuhan kredit dari bank sentral. Pertumbuhan money multiplier dan kredit dari bank sentral akan memperburuk neraca pembayaran dan peningkatan permintaan uang akan memperbaiki neraca pembayaran. Permintaan uang riil dan permintaan uang nominal masing-masing sebagai berikut.
Persamaan (22)
atau pertumbuhan permintaan uang: MD = Ld + P. Permintaan uang riil [Ld] merupakan fungsi dari pendapatan dan tingkat bunga sehingga pertumbuhan permintaan uang seperti berikut.
Persamaan (23)
masing-masing adalah elastisitas permintaan uang riil terhadap pendapatan dan tingkat bunga. Substitusi persamaan (23) ke pertumbuhan permintaan uang nominal diperoleh berikut ini.
Persamaan (24)
Secara ekstrem, penggunaan persamaan (24) dalam penentuan neraca pembayaran mengandung berbagai alasan. Pertama, pengaruh berbagai pertumbuhan variabel ekonomi terhadap neraca pembayaran membantu analisis neraca pembayaran. Kedua, dapat digunakan pengambil keputusan untuk menganalisis dampak program keuangan terhadap neraca pembayaran. Ketiga, basis untuk membuktikan pendekatan moneter secara empiris. Persamaan (x) dapat digunakan untuk target pertumbuhan kredit bank sentral dan hubungannya dengan neraca pembayaran. Misalkan, banksentral menargetkan pertumbuhan kredit bank sentral sebesar 4% dan H = Rp 100 miliar.
Dengan menggunakan persamaan (6) di atas diperoleh
atau
Rp 8.9 miliar (surplus neraca pembayaran)
Persamaan (24) juga dapat digunakan untuk mencapai keseimbangan eksternal pada tingkat fixed exchange rate, yaitu neraca pembayaran sama dengan nol (external balance).
Persamaan (25)
Persamaan (25) menjelaskan tingkat pertumbuhan kredit bank sentral untuk menjaga agar neraca pembayaran tetap seimbang dalam jangka panjang. Dari contoh di atas, diperoleh bahwa pertumbuhan kredit bank sentral tiap tahun sebesar 13.5% agar neraca pembayaran seimbang. Nobel laureate dari Milton Friedman menyarankan kebijakan moneter yang dinamakan monetary rule agar stok uang ditingkatkan pada tingkat yang tetap sepanjang waktu, tanpa variasi siklus. Hal ini berbeda dengan monetary rule yang kita diskusikan, yaitu central bank credit dinaikkan pada tingkat yang tetap. Salah satu tujuan monetary rule dari Friedman adalah menjaga.stabilitas harga, yaitu peningkatan penawaran uang akan menyebabkan inflasi. Akibatnya, peningkatan stok uang harus dijaga sehingga pada tingkat rata-rata kestabilan harga output stabil. Dari persamaan (25), ditunjukkan bahwa tujuan jangka panjang adalah keseimbangan eksternal, tanpa pengendalian terhadap tingkat inflasi. Dalam perekonomian terbuka, pertumbuhan penawaran uang tidak mempunyai efek kausal yang jelas terhadap inflasi domestik.
EKSPEKTASI PERUBAHAN NILAI TUKAR MATA UANG, TINGKAT BUNGA, DAN KRISIS NILAI TUKAR MATA UANG LUAR NEGERI
Ekspektasi berhubungan erat dengan penyesuaian portofolio dan neraca pembayaran. Ekspektasi nilai tukar mata uang masuk secara langsung pada analisis melalui penentuan tingkat bunga domestik yang disebut uncovered interest parity condition sebagai berikut.
Persamaan (26)
i* dan x masing-masing adalah tingkat bunga luar negeri dan ekspektasi depresiasi nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, investor meramalkan bahwa bank sentral akan menurunkan nilai tukar mata uang domestik maka sebelum depresiasi tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga luar negeri atau . Pada transisi waktu depresiasi, ekspektasi investor terhadap tingkat bunga domestik adalah uncovered interest parity, yaitu Peningkatan tingkat bunga domestik dari merupakan kompensasi atas ekspektasi kerugian dalam memegang mata uang domestik via-a’-vis mata uang luar negeri. Konsekuensi dari peningkatan tingkat bunga domestik sebagai berikut.
Persamaan (27)
Permintaan uang riil turun dan inflasi domestik konstan pada tingkat inflasi internasional tertentu. Jika bank sentral secara kontinu menciptakan kredit, cadangan internasional akan turun dan krisis neraca pembayaran akan terjadi. Investor akan membeli mata uang asing secara massal dan capital outflows berhenti jika tingkat bunga domestik dapat mengkompensasi seluruh ekspektasi kerugian dari memegang mata uang domestik.
PENDEKATAN PASAR ASET DAN TEORI NERACA PEMBAYARAN JANGKA PENDEK
Pendekatan pasar aset dan moneter terhadap neraca pembayaran dapat dihubungkan dengan beberapa persamaan berikut.
Persamaan (28a)
; keseimbangan pasar uang.
Persamaan (28b)
; fungsi permintaan agregat.
Persamaan (28c)
; fungsi penawaran agregat jangka pendek.
Persamaan (28d)
; persamaan neraca pembayaran.
masing-masing adalah absorpsi otomatis, trade balance otomatis, dan nilai tukar riil mata uang domestik Persamaan (28a) dan (28b) dikombinasikan untuk menentukan permintaan agregat, yaitu keseimbangan jangka pendek menentukan titik potong Yd dan Ys. Keseimbangan ini menghasilkan surplus atau defisit neraca pembayaran yang dijelaskan pada persamaan (28d). Pendekatan moneter digunakan pada persamaan (28a), sedangkan keseimbangan penawaran dan permintaan uang menentukan keseimbangan neraca pembayaran seperti berikut.
Persamaan (29)
Menurut persamaan (29), peningkatan pendapatan mengakibatkan perbaikan neraca pembayaran karena permintaan uang naik. Persamaan (28d) menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan meningkatkan impor dan memperburuk neraca pembayaran. Kedua pernyataan ini tidak mengakibatkan konflik pengaruh terhadap neraca pembayaran. Model permintaan dan penawaran akan menentukan output dan harga pasar. Model permintaan menjelaskan perilaku konsumen, sedangkan model penawaran menjelaskan perilaku produsen, sedangkan interaksi keduanya menghasilkan keseimbangan harga dan output. Analog dengan model permintaan dan penawaran, hubungan positif antara neraca pembayaran dan pendapatan (29), serta hubungan negatif antara neraca pembayaran dan pendapatan (28d) akan menghasilkan keseimbangan jangka pendek neraca pembayaran, yaitu B* dan Y*.
PENDEKATAN ELASTISITAS, ABSORPSI, DAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pendekatan elastisitas terhadap neraca pembayaran menekankan suatu analisis eksplisit terhadap ekspor dan impor suatu negara. Akibatnya, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara ekspor (X) dan impor (M) sebagai berikut.
Persamaan (30)
Pendekatan elastisitas ditujukan pada masalah dampak depresiasi, yaitu perubahan nilai tukar mata uang mempengaruhi terms of trade serta dampaknya terhadap ekspor, impor, dan neraca perdagangan. Efek pendapatan dari depresiasi dianalisis dari pendekatan elastisitas. Di sini, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara pendapatan dan absorpsi domestik sebagai berikut.
Persamaan (31)
Depresiasi menurut persamaan (31) akan memperbaiki neraca perdagangan selama pengeluaran relatif terhadap pendapatan turun. Pada kenyataannya, depresiasi mempunyai efek pendapatan dan efek harga relatif dengan implikasi bahwa pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat diintegrasikan, seperti pada persamaan (28d). Pada persamaan tersebut, efek pendapatan (Y) dan harga relatif (q) mempengaruhi neraca perdagangan (T) seperti berikut.
Persamaan (32)
Secara keseluruhan, pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat digunakan terhadap neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (33)
Dari persamaan (33), ditunjukkan tidak ada masalah dengan pendekatan elastisitas, pendekatan absorpsi, atau pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran. Ketiga pendekatan tersebut konsisten satu sama lain. Ketiga pendekatan tersebut hanya berbeda dalam pendefinisian neraca pembayaran (Firman, 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar