PENYUSUNAN KARYA ILMIAH
DOSEN PENGAMPUH :
Hendrik Furqon, M.pd
Di Susun Oleh :
Siti Makhmudah 18042002
Erin Novita Sari 18042041
Melli Apriana 18042042
Rizal Zamroni 18042044
Azzam Ghani Hidayatullah 26042027
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN
PRODI MANAJEMEN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami kanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “PENYUSUNAN KARYA ILMIAH” disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “BAHASA INDONESIA” yang diampu oleh Bapak Hendrik Furqon, M.pd.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan makalah ini. Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan kemampuan, pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh sebab itu kami selalu terbuka untuk menerima berbagai kritik dan saran yang membangun kita lebih maju dan berkembang menjadi lebih baik, sehingga kami dapat memperbaiki isi makalah ini serta kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama pembaca. Amin.
Lamongan, 05 April 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengertian Karya Ilmiah 3
Ciri-Ciri Karya Ilmiah 4
Jenis Karya Ilmiah 6
Sistematika Karya Ilmiah 7
BAB III PENUTUP 14
Kesimpulan 14
Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karya ilmiah merupakan hasil tulisan yang menuruti suatu aturan tertentu. Aturan tersebut biasanya merupakan suatu persyaratan tata tulis yang telah dibakukan oleh masyarakat akademik Secara umum, proses penulisan karya ilmıah dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap perbaikan.
Sebagai hasil penelitian atau kegiatan ilmiah setiap karangan ilmiah mengandung komponen adanya masalah yang menjadi topic karangan ilmiah itu Adanya tujuan penelitian, metode penelitian, teori yang dianut, objek penelitian, instrumen yang digunakan, dan adanya hasil penelitian yang diperoleh Setelah kaidah ditemukan dan dirumuskan, kegiatan penelitian harus diwujudkan dalam bentuk laporan Hal ini dimaksudkan karena sasaran akhir penelitian adalah mengkomunikasikan hasil penelitian pada khalayak terkait Oleh karena itu, menulis laporan merupakan tahap akhir yang penting dalam penelitian, karena menulis laporan merupakan proses komunikasi yang membutuhkan adanya pengertian yang sama antara penulis dan pembaca.
Jadi, dapat disimpulkan belajar menulis karya ilmiah itu sangat penting Supaya di setiap proses dan tahapannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu, pentingnya belajar menulis karya ilmiah juga dapat memperjelas sasaran atau tujuan dilaksanakannya penelitian sehingga dalam pembahasannya dapat disampaikan secara tepat dan mudah dipahami oleh pembaca.
Rumusan Masalah
Apa pengertian karya ilmiah?
Apa ciri-ciri karya ilmiah?
Apa saja jenis karya ilmiah?
Bagaimana sistematika karya ilmiah?
Tujuan
Makalah imi dreusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Serta memberi perjelasan kepada pembaca tentang karya ilmiah
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah menurut Barnawi (2016:18), Robert Day dalam Barnawi (2016:18) menyatakan bahwa “a scientific paper is a written and published report describing original search results” Karya ilmiah adalah laporan yang ditulis dan dipublikasikan yang menggambarkan hasil temuan yang sebenarnya. Karya ilmiah harus ditulis dengan cara tertentu sesuai dengan tradisi, etika ilmiah, dan prosedur penerbitan.
Perlu diketahui bahwa pada saat sekarang telah terjadi pergeseran paradigma tentang karya ilmiah. Pada mulanya karya tulis ilmiah harus didasarkan atas suatu penelitian ilmiah. Saat ini telah berkembang paradigma baru yang menyatakan bahwa karya tulis ilmiah tidak hanya didasarkan atas penelitian saja. tetapi dapat pula didasarkan atas kajian masalah oleh para ahlinya. Memerhatikan hal tersebut, Hernowo dalam Barnawi (2016:18) menangkap dua rumusan yang berkaitan dengan suatu karya ilmiah sebagai berikut.
Suatu karya ilmiah harus memenuhi cara-cara berkomunikasi yang sudah dibakukan dan dalam menganalisis suatu permasalahan harus menggunakan prinsip-prinsip keilmuan.
Suatu tulisan bisa juga masuk dalam kategori karya ilmiah tanpa memenuhi kaidah-kaidah sebagaimana disebutkan pada rumusan pertama, asal di dalamnya terdapat "metode baru dalam menelaah suatu permasalahan dan kebaruan suatu permasalahannya”
Menurut Brotowidjoyo dalam Barnawi (2016:18) karya ilmiah merupakan karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karangan yang disajikan berupa fakta-fakta apa adanya yang didukung dengan bukti-bukti empirik. Dengan kata lain, muatan karangan haruslah memuat kebenaran ilmiah. Sesuatu dapat dikatakan benar secara ilmiah apabila; sesuatu itu konsisten dengan apa yang dianggap benar sebelumnya, sesuatu itu sesuai dengan apa yang ada di lapangan, dan sesuatu itu memiliki nilai fungsi pada tataran praktis.
Sedangkan karangan ilmiah menurut dalam Nasucha (2009:181) adalah karangan yang disusun berdasarkan satu hasil penelitian. Bukan berdasarkan hasil rekaan seperti cerpen, novel, atau karya sastra lain. Sebagai karangan hasil penelitian maka didalamnya harus ada kompenen (1) masalah penelitian, (2) metode ilmiah, (3) tujuan penelitian, (4) landasan teori penelitian, (5) objek penelitian, dan (6) hasil penelitian. Di samping itu, sebuah karangan ilmiahjuga harus disertai dengan sebuah daftar pustaka acuan.
Sehingga dari beberapa pengertian di atas kami dapat menyimpulkan bahwa karya ilmiah adalah hasil dari pemikiran dari ilmuan yang ingin membuktikan secara nyata dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi melalui membaca, pengalaman, dan penelitian yang disusun membentuk suatu karangan yang didalamnya harus ada kompenen (1) masalah penelitian, (2) metode ilmiah, (3) tujuan penelitian, (4) landasan teori penelitian, (5) objek penelitian, dan (6) hasil penelitian.
Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan subtansi, sikap aspek,serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri atas bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri atas beberapa bab atau sub topik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindakan lanjut gagasan tersebut.
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya. Namun, semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar Pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan/istilah dan kalimat - kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Karya ilmiah berbeda dengan karya tulis jurnalistik. Karya tulis ilmiah juga berbeda dengan karya tulis prosa fiksi. Perbedaan itu terlihat pada hal hal-hal berikut.
Apabila karya tulis jurnalistik mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai tujuan utama penulisan, peristiwa sebagai bukti yan mendasari penyimpanan sebuah teori. Karena itu, tugas jurnalis adalah "memfoto" Fenomena apa adanya, tanpa diikuti komentar atau analisis teori. Sebaiknya, tugas ilmuan atau akademisi adalah menganalisis fenomena berdasarkan teori tertentu.
Apabila karya tulis prosa fiksi menonjolkan ekspresi emoai atau perasaan, karya tulis ilmiah menonjolkan ekspresi emosi akal pikiran. Karena itu, pengarang prosa fiksi bebas mengekspresikan analisis logis dan objektif.
Apa pun jenis karya ilmiah yang ditulis oleh ilmuwan atau akademisi sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.(Ghufron dkk. 2016:130)
Objektif
Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Selain itu setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahannya. (Ghufron dkk. 2016:131)
Netral
Kendaraan ini bisa dilihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau, mempengaruhi pembaca dihindarkan. (Ghufron dkk. 2016:131)
Sistematis
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. (Ghufron dkk. 2016:131)
Logis
Kegiatan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakanny, pola nalar induktif atau deduktif. kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif.sebalikny, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesi,digunakan pula deduktif. (Ghufron dkk. 2016:131)
Menyajikan Fakta
Setiap pernyataan uraian atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. karena itu pernyataan atau ungkapanyang emosional (menggebu-gebu seperti berkampanye, perasaan sedih seperti seorang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan. (Ghufron dkk. 2016:132)
Jenis Karya Ilmiah
Berdasarkan tingkat akademiknya, karangan ilmiah dapat dibedakan di atas: (1) laporan, (2) makalah, (3) artikel, dan (4) skripsi, tensis, disertasi.
Laporan
Laporan adalah karangan yang dibuat setelah seseorang melakukan eksperime, peninjauan atau survei ,observasi, pembacaan dan penelitian buk, penelitian dan lain-lain. Informasi yang disampaikan dalam laporan bisa bermacam-macam. isinya bisa berupa hasil pengkajian atau analisis suatu masalah yang berkembang di masyarakat atau mengemukakan serta menemukan hasil penelitian. (Ghufron dkk. 2016:133)
Makalah
Makalah sering juga disebut kertas kerja ialah jenis karya tulis yang memerlukan studi baik secara langsung misalnya observasi lapangan ataupun secara tidak langsung studi kepustakaan (Parera dalam ghufron 2016:133). Makalah ilmiah Dapat dibaca dan dibahas dalam pertemuan ilmiah seminar simposium konferensi konferensi diskusi akademik dan sebagainya makalah biasanya disusun dengan sistematika sebagai berikut; (1) judul,(2) abstrak, (3) pendahuluan, (4) isi atau pembahasan, (5)simpulan, dan (6)daftar Pustaka. (Ghufron dkk. 2016:133)
Artikel
Artikel merupakan gagasan tertulis dari penulis tentang suatu permasalahan yang didasarkan pada kajian Pustaka atau hasil penelitian. Artikel merupakan diseminasi pemikiran dari ahli atau seseorang yang secara intens mengamati permasalahan tertentu (pengamat). Artikel hampir mirip dengan makalah yang membedakan adalah ruang publikasinya.apabila makalah disampaikan dalam forum seminar atau Workshop, artikel dipublikasikan di media massa (koran atau majalah, yang biasa disebut artikel ilmiah populer). (Ghufron dkk. 2016:134)
Skripsi, Tesis, Disertasi
Skripsi, tesis, dan disertai merupakan karya ilmiah yang ditunjukkan untuk mengakhiri studi perguruan tinggi merupakan tugas akhir bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan. Tesis merupakan tugas akhir bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan. Disertasi merupakan tugas akhir bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan. Tugas akhir ini berupa hasil penelitian dari bidang tertentu (sesuai dengan jurusan atau program studi yang diambil) yang kemudian diwujudkan secara lisan untuk memperoleh derajat kelulusan dan kelayakan karya tersebut. (Ghufron dkk. 2016:135)
Sistematika karya ilmiah
Karya ilmiah yang lengkap memiliki bagian-bagian sebagai berikut:
Bagian Awal
Halaman sampul depan
Halaman judul
Halaman Persetujuan
Halaman Pengesahan
Halaman Pernyataan
Abstrak (bahasa indonesia)
Abstract (bahasa inggris)
kata pengantar
Daftar isi
Daftar Tabel ( jika ada)
Daftar Gambar ( jika ada)
Daftar Lampiran
Bagian Utama
Bab I Pendahuluan
Bab II Kajian Pustaka
Bab III Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab V Penutup ( simpulan dan saran)
Bagian Akhir
Daftar pustaka
Lampiran
Bagian utama merupakan bagian yang berisi bab - bab utama karya ilmiah. Penulisan nama ilmiah mengikuti sistematika sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Penelitian
Definisi Operasional
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Data dan Sumber Data
Pengumpulan Data
Penganalisian Data
BAB IV HASIL PENELITIAN Manfaat DAN PEMBAHASAN
(disesuaikan dengan rumusam masalah yang dibahas dalam karya ilmiah)
BAB V PENUTUP
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Pendahuluan
Bagian pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah,tujuan penelitian, dan definisi operasional.
Latar belakang masalah memaparkan alasan-alasan Mengapa masalah dan tujuan penelitian itu menjadi fokus penelitian. Masalah harus tersurat secara jelas substansi permasalahan (akar permasalahan) yang dikaji dalam penelitian. cara operasional permasalahan penelitian yang dimaksud gayun relevan dengan rumusan masalah yang diajukan pokok isi paparan latar belakang masalah hendaknya mampu meyakinkan pihak lain terutama pembimbing konsultasi dan penguji unsur yang perlu di paparkan dalam latar belakang masalah penelitian sekurang-kurangnya memuat hal-hal berikut: penjelasan dan/ atau alasan mengapa masalah yang diteliti itu penting dan menarik: beberapa bukti bahwa masalah yang diajukan belum ada jawaban atau pemecahan yang memuaskan. harus dijelaskan bahwa masalah yang akan diteliti belum pernah diteliti oleh siapapun dan juga merupakan penelitian ulang replikasi harus di Jelaskan alasan mengapa hal itu dilakukan: kedudukan masalah yang diteliti dalam konteks permasalahan yang lebih luas dengan memperhatikan perkembangan bidang yang dikaji: penelitian Penelitian yang mendasarinya atau relevan yang bersumber dari terbitan berkala ilmiah atau temuan lapangan yang berhubungan dengan masalah.
Pada umumnya rumusan masalah disajikan secara terpisah dari latar belakang masalah dalam bentuk kalimat tanya. Rumusan masalah ini memiliki peran penting karena memperlihatkan kesiapan akademik mahasiswa dalam penyusunan rancangan penelitian. dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah dapat diganti dengan fokus penelitian.
Tujuan penelitian ini harus relevan dengan rumusan masalah. Rumusan tujuan penelitian harus memberikan gambaran tentang apa yang akan dicapai setelah peneliti dilakukan.
Manfaat penelitian meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis merupakan penjelasan manfaat penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi. Manfaat praktis merupakan penjelasan manfaat penelitian bagi bangsa dan negara/sekolah/penentu kebijakan atau masyarakat pada umumnya.
Kata-kata penting yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran perlu diberi batasan (definisi) sesuai dengan maksud pemakaian kata tersebut. Kata-kata yang perlu diberi batasan adalah kata-kata penting yang tercantum pada judul dan rumusan masalah. (Ghufron dkk. 2016:137)
Kajian Pustaka
Kajian pustaka berisi kajian dan/atau analisis teoretis untuk menyusun kerangka pemikiran teoretis dalam upaya pemecahan masalah penelitian serta pencapaian tujuan penelitian. Pada dasarnya kajian pustaka mencakup (1) kajian literatur yang gayut dengan masalah dan/atau fokus penelitian dan (2) penyusunan kerangka teoretis atau kerangka konsptual penelitian yang dikembangkan oleh peneliti.
Isi kajian pustaka hendaknya gayut dengan permasalahan yang diteliti serta mampu memberikan gambaran tentang (a) posisi (kedudukan) permasalahan penelitian dalam mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau kedudukannya dalam konteks permasalahan yang lebih besar terkait dengan bidang yang dikaji, (b) sasaran dan target pemecahan masalah kehidupan serta manfaatnya bagi perkembangan kehidupan manusia sejalan dengan perkembangan zaman, (c) melandasi pemikiran metodologis terutama dalam menetapkan rancangan penelitian serta pengembangan instrumen penelitian.
Bahan yang dikaji antara lain bersumber dari buku, majalah ilmiah dan jurnal, makalah seminar, kebijakan hukum, dan perundang undangan, hasil penelitian, serta informasi lewat internet. Khusus pengajian hasil penelitian yang relevan, baik hasil penelitian tersebut telah disajikan pada suatu jurnal atau masih berbentuk buku laporan penelitian, pengajian atau analisisnya disatukan dengan bahan kajian yang lain sesuai dengan pokok analisis teoretis yang dibahas. Dengan kata lain, kajian hasil penelitian tidak disajikan secara terpisah dari kajian pustaka yang lain dalam suatu bab tersendiri. (Ghufron dkk. 2016:138)
Metode Penelitian
Pada bagian ini minimal dipaparkan hal-hal berikut: rancangan penelitian, data dan sumber data, pengumpulan data, dan penganalisisan data. Rancangan penelitian harus memapaparkan pendekatan dan jenis penelitian yang dipililh oleh peneliti. Pada bagian data dan sumber data harus dijelaskan data apa saja yang akan dikumpulkan. Data itu harus sesuai dengan rumusan masalah karena digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Sumber data juga harus disebutkan secara jelas. Bagian pengumpulan data ini berisi metode atau teknik yang dipilih, instrumen yang digunakan, dan prosedur yang dilakukan. Pada bagian penganalisisan data harus dipaparkan metode atau teknik penganalisisan data serta prosedur atau langkah-langkah konkret dalam penganalisisan data. (Ghufron dkk. 2016:139)
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian ditulis secara berurutan dalam sub-subbab sesuai dengan tata urutan rumusan masalah. Hasil penelitian hendaknya ditata saling berkaitan untuk menjaga agar tesis dapat dibaca secara runtut, terintegrasi, dan merupakan dokumen yang menyatu.
Bagian Pembahasan antara lain memberikan penjelasan tentang ketidak tercapaiannya tujuan yang diharapkan kejanggalan yang mungkin muncul dari hasil analisi fisibilitas penerapan hasil di lapangan, dan berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan hasil analisis yang mengarah ke penarikan simpulan dan saran.
Hal yang lebih penting lagi harus ditulis di bagian ini adalah pembahasan hasil penelitian dalam kaitannya dengan hasil penelitian lain, misalnya dengan menyatakan, "Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh ...." atau "Hasil penelitian ini merevisi hasil penelitian sebelumnya tentang ....”
Pada bagian ini peneliti juga memberikan argumentasi terhadap hasil yang diperoleh, misalnya dengan cara mengaitkan hasil penelitian dengan teori dan hasil penelitian yang relevan yang sudah dibahas pada bagian Kajian Pustaka. (Ghufron dkk. 2016:)
Penutup
Bagian ini terdiri dari subbab simpulan dan saran yang dinyatakan secara terpisah. Simpulan berisi paparan singkat tentang hasil penelitian yang merupakan jawaban dari rumusan masalah. Perumusan simpulan penelitian harus sesuai dengan tata urutan rumusan masalah. Saran yang diajukan harus operasional dan relevan dengan simpulan penelitian dan manfaat penelitian. Saran yang bersifat teoritis dan abstrak harus dihindari bobot suatu hasil penelitian terletak pada kualitas saran yang diusulkan. (Ghufron dkk. 2016:140)
Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar buku atau referensi yang dirujuk dalam mempersiapkan penelitian dan penulisan tesis. Semua buku, majalah ilmiah, jurnal, atau dokumen lainyang dirujuk dalam mempersiapkan penelitian dan penulisan tesis tersebut disajikan dalam bentuk daftar pustaka. (Ghufron dkk. 2016:141)
Lampiran
Lampiran memuat hal-hal yang perlu disertakan untuk lebih memperjelas isi penelitian. Hal-hal yang perlu dilampirkan misalnya instrumen penelitian, kuesioner, transkip hasil wawancara, korpus data, perhitungan statistik, dan surat izin penelitian. (Ghufron dkk. 2016:141)
BAB III
PENUTUP
Simpulan
karya ilmiah adalah hasil dari pemikiran dari ilmuan yang ingin membuktikan secara nyata dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi melalui membaca, pengalaman, dan penelitian yang disusun membentuk suatu karangan yang didalamnya harus ada kompenen (1) masalah penelitian, (2) metode ilmiah, (3) tujuan penelitian, (4) landasan teori penelitian, (5) objek penelitian, dan (6) hasil penelitian.
Ciri-ciri karya ilmiah dikaji dari empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan subtansi, sikap aspek,serta penggunaan bahasa. Struktur sajian. karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar Pustaka. enis karya ilmiah yang ditulis memiliki ciri-ciri seperti objektif, netral, sistematis, logis, dan menyajikan fakta.
karangan ilmiah dibagi menjadi laporan, makalah, artikel, skripsi, tensis, dan disertasi. Laporan adalah karangan yang dibuat setelah seseorang melakukan eksperime, peninjauan atau survei ,observasi, pembacaan dan penelitiaan buku, penelitian dan lain-lain. Makalah ialah jenis karya tulis yang memerlukan studi baik secara langsung, makalah ilmiah Dapat dibaca dan dibahas dalam pertemuan ilmiah seminar simposium konferensi konferensi diskusi akademik. Artikel merupakan gagasan tertulis dari penulis tentang suatu permasalahan yang didasarkan pada kajian Pustaka atau hasil penelitian. Serta Skripsi, tesis, dan disertai merupakan karya ilmiah yang ditunjukkan untuk mengakhiri studi perguruan tinggi merupakan tugas akhir bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan.
Karya ilmiah yang lengkap memiliki bagian-bagian seperti bagian awal, bagian utama, bagian akhir. Bagian pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah,tujuan penelitian, dan definisi operasional. Kajian pustaka berisi kajian dan/atau analisis teoretis untuk menyusun kerangka pemikiran teoretis dalam upaya pemecahan masalah penelitian serta pencapaian tujuan penelitian. Metode ilmiah memaparkan rancangan penelitian, data dan sumber data, pengumpulan data, dan penganalisisan data. Hasil penelitian dan pembahasan ditulis secara berurutan dalam sub-subbab sesuai dengan tata urutan rumusan masalah. Penutup terdiri dari subbab simpulan dan saran yang dinyatakan secara terpisah. Daftar pustaka merupakan daftar buku atau referensi yang dirujuk dalam mempersiapkan penelitian dan penulisan tesis. Lampiran memuat hal-hal yang perlu disertakan untuk lebih memperjelas isi penelitian.
Saran
Bagi mahasiswa dan mahasiswi yang akan membuat karya ilmiah,sebaiknya memahami syarat-syarat penting dalam penulisan karya imiah terlebih dahulu, agar dapat menulis karya ilmiah demgan baik dan benar. Bagi para dosen, Pembimbing atau pengajar sebaiknya memberikan arahan serta bimbingan yang jelas mengenai penulisan karya ilmiah. Penulis menganggap bahwa penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat mendidik dan memotivasi sangat penulis harapkan demi perbaikan masalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Barnawi, dkk. 2017. Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta. Ar-Ruzz Media.
Ghufron, Syamsul, dkk. 2016. Kompeten Berbahasa Indonesia Edisi Revisi. Lamongan:CV Pustaka Ilalang Lamongan.
Nasucha, Yakub, dkk, 2009. Bahasa Indonesia Untuk Penulisan Karya Ilmiah, Media Perkasa Yogyakarta.
Senin, 23 Desember 2019
Makalah PENDEKATAN MONETER INTERNASIONAL
PENDEKATAN MONETER INTERNASIONAL
DOSEN PENGAMPUH :
AHMAD FATHUR ROZI,MM
Di Susun Oleh :
Rezka Titin Porwati 18042053
Erin Novita Sari 18042041
Roudhotul Farikha 18042038
Rizal Zamroni 18042044
Dzonnuar Yudha Prawira 18042002
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN
PRODI MANAJEMEN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami kanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “MEMAHAMI SISTEM MONETER INTERNASIONAL” disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “BISNIS INTERNASIONAL” yang diampu oleh Bapak Muhammad Hafidh Nasrullah.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan makalah ini. Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan kemampuan, pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh sebab itu kami selalu terbuka untuk menerima berbagai kritik dan saran yang membangun kita lebih maju dan berkembang menjadi lebih baik, sehingga kami dapat memperbaiki isi makalah ini serta kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama pembaca. Amin.
Lamongan, 01 November 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
Daftar Isi ii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
BAB II : PEMBAHASAN
Pendekatan Moneter Terhadap neraca pembayaran 3
Mekanisme moneter dari penyesuaian neraca pembayaran 4
Devaluasi pendekatan moneter 7
Pilihan portofolio dalam perekonomian terbuka 8
Pertumbuhan, inflasi, dan rekening uang 10
Ekspetasi perubahan nilai tukar mata uang, tingkat bunga, dan krisis nilai tukar mata uang luar negeri 12
Pendekatan pasar aset dan teori neraca pembayaran jangka pendek 13
Pendekatan elastisitas, absorsi, dan moneter terhadap neraca pembayaran 14
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan 16
Saran 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada modul sebelumnya, dua dekade setelah keruntuhan sistem Bretton Woods masih tetap berlangsung perdebatan mengenai bagaimana bentuk regime kurs mata uang yang terbaik bagi dunia. Sebagian ahli ekonomi memelopori sistem ketika mata uang utama dibiarkan mengambang satu sama lainnya. Sementara itu, ahli ekonomi lainnya berpendapat bahwa lebih baik kembali ke sistem kurs tetap yang mirip dengan sistem Bretton Woods.
Hal ini akan memberikan implikasi dari seluruh bisnis internasional ini, terutama mengenai kebijaksanaan mata uang terhadap praktik bisnis. Kasus nyata, misalnya, kebijakan Pemerintah Meksiko pada Desember 1994 untuk membiarkan peso mengambang secara bebas terhadap dolar US mengakibatkan terjadinya depresiasi nilai dolar dari peso sebesar 40%. Jelas, hal ini sangat merugikan perusahaan-perusahaan yang mengimpor mobil atau suku cadang mobil dari Amerika Serikat (AS) ke Meksiko. Ini menunjukkan betapa rentannya bisnis internasional terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan kurs tukar. Pada saat yang bersamaan, kasus ini mengilustrasikan
bagaimana kebijakan pemerintah tentang kurs dapat menciptakan peluangpeluang bisnis. Dalam jangka panjang, harga peso yang lebih murah akan meningkatkan daya saing dan potensi ekspor dari pabrik-pabrik manufaktur mobil yang berbasis di Meksiko (Rusdin, 2002).
Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja sistem moneter internasional dan untuk menunjukkan implikasinya terhadap bisnis internasional. Untuk memahami bagaimana cara kerja sistem moneter internasional, kita harus mengkaji evolusi dari sistem tersebut.
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN
PENDEKATAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pengembangan pendekatan moneter secara modern terhadap neraca pembayaran dikembangkan antara tahun 1950—1960 oleh IMF, University of Chicago, dan London School of Economics. Studi awal dilakukan oleh Robert Mundell, Harry Johnson, dan J.J. Polak. Generasi berikutnya itu termasuk Rudiger Dornbusch, Jacob Frenkel, Arthur B. Laffer, Michael Mussa, dan masih banyak yang lainnya.
Pendekatan moneter menekankan bahwa neraca pembayaran mencakup fenomena moneter. Masalah neraca pembayaran bukan berarti hanya fenomena moneter, yang dimaksud dalam hal ini adalah peranan uang dalam neraca pembayaran sangat esensial. Pertimbangan moneter dalam neraca pembayaran sangat perlu dalam studi ekonomi terbuka dan neraca pembayaran.
Pasar uang dalam kondisi keseimbangan berarti perubahan permintaan uang kas nominal ((MD) sama dengan perubahan penawaran uang kas nominal ((MS) seperti berikut ini (Firman, 2006).
Persamaan (1)
(MD=(MS
Perubahan pendapatan, tingkat bunga, dan faktor lainnya akan mempengaruhi permintaan uang kas nominal. Misalnya, jika pendapatan individu semakin tinggi, individu tersebut menginginkan aset moneter yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika tingkat bunga semakin tinggi, aset yang menghasilkan bunga semakin tinggi dan permintaan uang kas nominal semakin rendah. Perubahan penawaran uang proporsional dengan perubahan high-powered money ((H), yaitu penjumlahan perubahan cadangan internasional dari bank sentral ((IR) dan perubahan kredit bank sentral ((CBC), sebagai berikut.
Persamaan (2)
(MS=
Konsep neraca pembayaran yang digunakan dan yang relevan dengan proses penawaran uang adalah rekening uang dalam neraca pembayaran (), yaitu . Persamaan (2) dapat dituliskan menjadi berikut ini.
Persamaan (3)
Surplus atau defisit rekening uang berhubungan dengan penciptaan kredit bank sentral sebagai sumber perubahan penawaran uang. Substitusi persamaan (3) ke (1) diperoleh sebagai berikut.
Persamaan (4)
Maka itu, neraca pembayaran dapat didefinisikan menjadi berikut ini.
Persamaan (5)
Persamaan (5) menjelaskan jika berarti perubahan permintaan uang kas nominal lebih besar daripada perubahan kredit bank sentral. Sebaliknya, berarti perubahan kredit bank sentral lebih besar dari perubahan permintaan uang . Persamaan (5) berarti penawaran uang yang diciptakan bank sentral pada periode tertentu yang tidak diminta oleh penduduk domestik akan mempengaruhi defisit neraca pembayaran. Penduduk domestik yang mempunyai kelebihan kas akan membeli barang atau aset luar negeri dengan menggunakan mata uang luar negeri. Penduduk domestik akan menjual mata uang domestik untuk membeli mata uang internasional. Akibatnya, bank sentral akan kehilangan cadangan internasional, rekening uang kas mengalami defisit, dan akhirnya neraca pembayaran defisit dalam mata uang domestik. Kelebihan uang kas nominal yang dipegang oleh penduduk domestik dapat digunakan untuk membeli barang dan aset luar negeri sehingga neraca pembayaran mengukur pembelian barang luar negeri secara neto dan aset luar negeri secara neto seperti berikut.
Persamaan (6)
adalah masing-masing definisi dari neraca perdagangan dan neraca modal. Dari penjelasan di atas, pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran, jika hanya mencakup fenomena moneter, tidak mencukupi karena aktivitas program keuangan pemerintah tidak dimasukkan sebagai variabel yang penting dalam pembahasan neraca pembayaran.
MEKANISME MONETER DARI PENYESUAIAN NERACA PEMBAYARAN
Gangguan-gangguan ekonomi internasional dalam jangka panjang akan mempengaruhi faktor-faktor moneter yang respek terhadap neraca pembayaran. Misalnya, perubahan harga, tingkat bunga, pengangguran, output, dan berbagai faktor lainnya yang berhubungan. Dengan asumsi bahwa suatu negara adalah price taker dalam perdagangan barang dan aset luar negeri, harga barang domestik ekuivalen dengan harga luar negeri dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, absorpsi domestik riil , yaitu pengeluaran untuk barang domestik dan luar negeri, dipengaruhi oleh aset yang dipegang oleh penduduk domestik seperti berikut.
Persamaan (7)
masing-masing adalah absorpsi otomatis, output agregat riil, tingkat bunga domestik nominal, serta wealth dan indeks harga domestik, masing-masing parameter positif yang menjelaskan bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang tinggi serta tingkat bunga yang rendah mendorong peningkatan pengeluaran domestik riil. Pendekatan wealth dalam penentuan pengeluaran domestik disarankan oleh . Pigou yang dikenal dengan efek. Pigou. Misalnya, konsumsi penduduk yang telah pensiun dibiayai oleh aset atau wealth yang dikumpulkan selama hidup. Misalkan, aset yang dipegang oleh penduduk adalah aset moneter sehingga W/P = M/P. Dalam kasus ini, perdagangan internasional dalam aset nonmoneter diabaikan sehingga neraca modal tidak muncul dan neraca pembayaran sama dengan neraca perdagangan. Oleh sebab itu, penyesuaian neraca pembayaran dengan aset berupa uang dan penghilangan pengaruh tingkat bunga (tidak adanya substitusi antara uang dan obligasi) sebagai berikut.
Persamaan (8)
Output riil sama dengan output potensial dan P ditentukan oleh harga internasional P. Secara grafis, mekanisme penyesuaian moneter secara murni terhadap neraca perdagangan sebagai berikut.
Gambar 7.1
Garis menjelaskan hubungan positif antara wealth dan pengeluaran konsumsi. Itu artinya peningkatan saldo kas riil yang dipegang oleh penduduk akan meningkatkan pengeluaran konsumsi, sedangkan yang lainnya konstan. Garis horizontal menjelaskan tingkat absorpsi dan hubungannya dengan tingkat output atau pendapatan pada full-employment. Defisit atau surplus neraca perdagangan ditentukan oleh jarak vertikal antara garis AA dan garis. Jarak titik B-C menjelaskan defisit neraca perdagangan suatu perekonomian karena absorpsi lebih besar dari tingkat pendapatan atau output pada full-employment atauT = Y – A. Pada posisi defisit neraca perdagangan, aset moneter selalu lebih besar dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih besar dari tingkat pendapatan atau output agregat. Pembiayaan kelebihan pengeluaran ini akan mengurangi aset yang dipegang dan mengurangi saldo moneter. Jika diasumsikan bank sentral pasif, penawaran uang akan berkurang. Sebaliknya, surplus neraca perdagangan dijelaskan oleh aset moneter selalu lebih kecil dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih kecil dari tingkat pendapatan atau output agregat. Oleh sebab itu, keseimbangan eksternal ditunjukkan oleh titik E seperti berikut.
Persamaan (9)
Ae adalah tingkat absorpsi domestik pada tingkat saldo kas riil domestik (M/P)e. Dari persamaan (9), diperoleh stok uang kas riil pada keseimbangan eksternal sebagai berikut.
Persamaan (10)
Persamaan (10) ini menjelaskan permintaan uang kas riil dalam jangka panjang atau target jumlah uang kas riil yang beredar. Masalahnya, berapa lama penyesuaian moneter mencapai external balance? Hal ini tergantung pada seberapa cepat penduduk domestik menyesuaikan saldo uang kas mereka. Dengan asumsi bank sentral bertindak pasif, perubahan saldo uang kas terjadi melalui neraca perdagangan, yaitu neraca perdagangan merupakan kelebihan atas absorpsi domestik berikut.
Persamaan (11)
Karena persamaan (10) menjelaskan e dan substitusi ke-(k) diperoleh berikut ini.
Persamaan (12)
Persamaan (7) menjelaskan bahwa penyesuaian dalam wealth moneter dalam kasus neraca perdagangan merupakan perbedaan proporsi antara keseimbangan stok uang jangka panjang yang dipegang (M/P)e dengan stok uang aktual yang dipegang waktu tertentu (M/P). Penyesuaian jangka panjang ini disebut stock adjustment mechanism yang menjelaskan bagaimana penduduk domestik merespons ketidakseimbangan temporer sektor moneter. Persamaan (7) menunjukkan dua faktor menentukan speed perubahan yang terjadi dalam aset moneter berikut.
Perbedaan antara stok uang aktual (M/P) dan stok uang yang diinginkan (M/P)e. Semakin besar perbedaan (M/P) dengan (M/P)e, semakin lama penyesuaian keseimbangan neraca perdagangan.
Nilai parameter : dari persamaan (12) ditunjukkan bahwa menjelaskan fraksi dari perbedaan stok uang yang diinginkan dengan stok uang aktual. Semakin besar ., semakin cepat penyesuaian terhadap keseimbangan jangka panjang.
Persamaan (11) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap output potensial (YF), absorpsi otomatis (A), atau penawaran uang riil (W/P) akan mengganggu keseimbangan neraca perdagangan dan neraca pembayaran suatu perekonomian.
DEVALUASI PENDEKATAN MONETER
Tingkat harga umum domestik menjelaskan biaya pembelian sekelompok barang oleh konsumen domestik. Harga domestik (P) dipengaruhi oleh pembelian komoditas yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor . Persamaannya sebagai berikut.
Persamaan (13)
P = +
adalah pangsa konsumsi domestik yang dapat diekspor, sedangkan adalah pangsa konsumsi yang dapat diimpor. Jika suatu negara adalah price taker, harga impor sama dengan harga impor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik dan harga ekspor sama dengan harga ekspor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik , yaitu [P*M dan P*X] dalam nilai mata uang asing. Berdasarkan proposisi tersebut, harga domestik sebagai berikut.
Persamaan (14)
Dari persamaan (14), diketahui bahwa devaluasi peningkatan e (nilai mata uang domestik) akan meningkatkan harga domestik, P. Konsekuensinya, nilai saldo uang kas riil turunpadakeseimbangan awal yang dijelaskan pada gambar berikut. Penurunan aset moneter riil dari (M/P)e ke tingkat yang lebih rendah menyebabkan penurunan pengeluaran domestik. Oleh sebab itu, devaluasi pada awalnya akan meningkatkan surplus neraca perdagangan, yaitu sebesar . Surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran akan mendorong penawaran uang sehingga surplus neraca tersebut akan hilang karena absorpsi naik sampai surplus tersebut habis pada (M/P)e. Walaupun harga domestik naik akibat devaluasi, harga relatif ekspor dengan impor internasional (P*X/P*M) tidak terpengaruh. Devaluasi akan meningkatkan harga ekspor dan impor dalam mata uang domestik dengan proporsi yang sama sebagai berikut.
Hal ini merupakan salah satu outcome dari pendekatan moneter yang harga relatif domestik antara impor dan ekspor tidak berubah. Akibatnya, dalam jangka panjang, neraca perdagangan atau pembayaran kembali seimbang. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 7.2
PILIHAN PORTOFOLIO DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA
Penduduk domestik dapat memegang wealth moneter atau aset finansial, uang (M/P), dan obligasi (V) sebagai berikut.
Persamaan (15)
W / P = M / P + V
Ada dua keputusan yang dibuat dalam hal-hal berikut. (1) Berapa ukuran portofolio (berapa banyak wealth yang harus dipegang) dan (2) bagaimana komposisi aset yang dipegang (tipe aset yang akan dipegang).
Gambar berikut ini menjelaskan absorpsi dan kondisi full employment, yaitu wealth mencakup aset nonmoneter. Ukuran portofolio yang diinginkan penduduk domestik adalah (W/P)e. Pada titik E, tingkat wealth sebesar (W/P)e pendapatan sama dengan absorpsi dan neraca perdagangan seimbang. Jika total wealth yang diinvestasikan sebesar (W/P)e, kombinasi obligasi dan uang dijelaskan oleh garis slope negatif yang dinamakan wealth constraint line. Persamaan garis ini adalah (W/P)e = M/P + V atau persamaan (16).
Persamaan (16)
V=(W / Pe – M / P )
Pada tingkat (W/P)e tertentu, peningkatan obligasi terjadi jika uang kasriil yang dipegang turun, (W/P)e = M/P maka V = 0 (titik potong pada garis horizontal) dan (W/P)e = V sehingga M/P = 0 (titik potong pada garis vertikal). Kombinasi lain antara uang dan obligasi terjadi pada wealth constraint line. Investor melakukan diversifikasi aset dengan pertimbangan risiko, return, dan karakteristik lainnya. Berdasarkan karakteristik ini, proporsi obligasi terhadap uang ditunjukkan oleh parameter y berikut.
Persamaan (17)
V = ( M/P )
Diasumsikan y tetap karena dipengaruhi oleh faktor lainya, misalnya tingkat bangsa. Misalnya = 2, persamaan (17) menjadi V = 2 (M/P), artinya setiap rupiah dalam aset moneter nilai obligasi yang dipegang sebesar 2. Pada gambar berikut ini terlihat bahwa slope persamaan (17) adalah y dan positif yang disebut portfolio diversification line.
Gambar 7.3
` Secara umum, penduduk domestik akan memegang obligasi dan uang.Obligasi dapat terdiri atas obligasi domestik dan luar negeri. Kembali ke konsep dasar neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (18)
Pada seksi ini, diabaikan. Misalkan, terjadi peningkatan penawaran uang secara tiba-tiba dengan cara pencetakan uang baru. Ada dua kemungkinan mekanisme untuk mengubah uang kas yang dipegang. Pertama, membeli barang atau komoditas luar negeri. Mekanisme ini akan mengakibatkan defisit neraca perdagangan dan dengan sendirinya mengurangi ukuran total portofolio. Neraca perdagangan defisit menyebabkan pengurangan total aset domestik melalui portfolio size adjustment mechanism. Kedua, kelebihan uang digunakan untuk membeli obligasi atau aset luar negeri yang ditunjukkan oleh defisit neraca modal.Penukaran uang dengan mencakup aset luar negeri tidak mengubah ukuran total portofolio, hanya mengubah komposisi uang dan obligasi (uang makin kecil dan obligasi makin besar). Kedua mekanisme di atas dapat digunakan untuk menghilangkan kelebihan saldo uang kas.
Mekanisme komposisi portofolio biasanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat pendek,sedangkan mekanisme ukuran portofolio terjadi dalam jangka waktu yang panjang karena terjadi melalui perubahan relatif antara pengeluaran dan pendapatan. Hal ini merupakan perbedaan utama antara portfolio size mechanism dan portfolio composition mechanism. Pada gambar berikut, ditunjukkan keseimbangan penuh terjadi pada titik E dengan ukuran portofolio sebesar (W/P)e. Pada titik tersebut, jumlah obligasi sebesar Ve dan uang kas riil sebesar (M/P)e, titik C. Ketika bank sentral mencetak uang baru, uang kas riil naik dari (M/P)e ke sehingga stok aset keuangan naik dari (W/P)e ke . Pencetakan uang baru akan menyebabkan kelebihan uang kas yang dipegang dari titik C ke titik D. Titik D menjelaskan ketidakseimbangan portofolio karena terletak jauh di luar portfolio diversification line.
Gambar 7.4
Penduduk ingin mengubah komposisi portofolio dengan cara mengubah uang dengan obligasi dan menyebabkan defisit neraca modal, yaitu perpindahan dari titik D ke F. Penyesuaian saldo kas melalui transaksi modal
mengubah komposisi portofolio, sepanjang portfolio diversification line perekonomian tidak berubah ke tingkat ukuran portofolio yang diinginkan, titik F. Kelebihan uang kas secara aktual mengakibatkan penggantian uang dengan obligasi, yaitu total aset yang dipegang masih lebih tinggi dari tingkat yang diinginkan. Penyesuaian komposisi portofolio menjelaskan perekonomian berada pada tingkat yang lebih besar dari (W/P)e. Penyesuaian ukuran portofolio akan mengarah pada tingkat awal, yaitu dari titik E dan C. Artinya, pembelian bersih barang luar negeri akan menghabiskan kelebihan aset yang dipegang. Hal ini merefleksikan defisit neraca perdagangan yang dijelaskan perpindahan dari titik F ke titik C.
Mekanisme ukuran portofolio dan komposisi portofolio ini menyimpulkan bahwa mekanisme moneter dan nonmoneter dalam jangka panjang mengakibatkan perekonomian mencapai keseimbangan. Kelebihan uang kas akibat pencetakan uang baru akan habis dibelanjakan dan mengakibatkan neraca perdagangan dan pembayaran semakin buruk dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang kembali mengalami keseimbangan. Penyesuaian neraca pembayaran menjelaskan perubahan komposisi portofolio yang beroperasi melalui neraca modal dan perubahan ukuran portofolio beroperasi melalui neraca perdagangan yang mengakibatkan ukuran portofolio turun.
PERTUMBUHAN, INFLASI, DAN REKENING UANG
Pasar aset berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui rekening uang pada neraca pembayaran. Tingkat pertumbuhan uang dalam keseimbangan sebagai berikut.
Persamaan (19)
. Jika money multiplier berubah, pembayaran eksternal tidak seimbang dan penciptaan kredit bank sentral akan menambah penawaran uang. Efek terhadap pertumbuhan penawaran uang dijelaskan sebagai berikut.
Persamaan (20)
sehingga proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money sebagai berikut.
Persamaan (21)
menunjukkan proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money dipengaruhi oleh money multiplier dari penawaran uang dan pertumbuhan kredit dari bank sentral. Pertumbuhan money multiplier dan kredit dari bank sentral akan memperburuk neraca pembayaran dan peningkatan permintaan uang akan memperbaiki neraca pembayaran. Permintaan uang riil dan permintaan uang nominal masing-masing sebagai berikut.
Persamaan (22)
atau pertumbuhan permintaan uang: MD = Ld + P. Permintaan uang riil [Ld] merupakan fungsi dari pendapatan dan tingkat bunga sehingga pertumbuhan permintaan uang seperti berikut.
Persamaan (23)
masing-masing adalah elastisitas permintaan uang riil terhadap pendapatan dan tingkat bunga. Substitusi persamaan (23) ke pertumbuhan permintaan uang nominal diperoleh berikut ini.
Persamaan (24)
Secara ekstrem, penggunaan persamaan (24) dalam penentuan neraca pembayaran mengandung berbagai alasan. Pertama, pengaruh berbagai pertumbuhan variabel ekonomi terhadap neraca pembayaran membantu analisis neraca pembayaran. Kedua, dapat digunakan pengambil keputusan untuk menganalisis dampak program keuangan terhadap neraca pembayaran. Ketiga, basis untuk membuktikan pendekatan moneter secara empiris. Persamaan (x) dapat digunakan untuk target pertumbuhan kredit bank sentral dan hubungannya dengan neraca pembayaran. Misalkan, banksentral menargetkan pertumbuhan kredit bank sentral sebesar 4% dan H = Rp 100 miliar.
Dengan menggunakan persamaan (6) di atas diperoleh
atau
Rp 8.9 miliar (surplus neraca pembayaran)
Persamaan (24) juga dapat digunakan untuk mencapai keseimbangan eksternal pada tingkat fixed exchange rate, yaitu neraca pembayaran sama dengan nol (external balance).
Persamaan (25)
Persamaan (25) menjelaskan tingkat pertumbuhan kredit bank sentral untuk menjaga agar neraca pembayaran tetap seimbang dalam jangka panjang. Dari contoh di atas, diperoleh bahwa pertumbuhan kredit bank sentral tiap tahun sebesar 13.5% agar neraca pembayaran seimbang. Nobel laureate dari Milton Friedman menyarankan kebijakan moneter yang dinamakan monetary rule agar stok uang ditingkatkan pada tingkat yang tetap sepanjang waktu, tanpa variasi siklus. Hal ini berbeda dengan monetary rule yang kita diskusikan, yaitu central bank credit dinaikkan pada tingkat yang tetap. Salah satu tujuan monetary rule dari Friedman adalah menjaga.stabilitas harga, yaitu peningkatan penawaran uang akan menyebabkan inflasi. Akibatnya, peningkatan stok uang harus dijaga sehingga pada tingkat rata-rata kestabilan harga output stabil. Dari persamaan (25), ditunjukkan bahwa tujuan jangka panjang adalah keseimbangan eksternal, tanpa pengendalian terhadap tingkat inflasi. Dalam perekonomian terbuka, pertumbuhan penawaran uang tidak mempunyai efek kausal yang jelas terhadap inflasi domestik.
EKSPEKTASI PERUBAHAN NILAI TUKAR MATA UANG, TINGKAT BUNGA, DAN KRISIS NILAI TUKAR MATA UANG LUAR NEGERI
Ekspektasi berhubungan erat dengan penyesuaian portofolio dan neraca pembayaran. Ekspektasi nilai tukar mata uang masuk secara langsung pada analisis melalui penentuan tingkat bunga domestik yang disebut uncovered interest parity condition sebagai berikut.
Persamaan (26)
i* dan x masing-masing adalah tingkat bunga luar negeri dan ekspektasi depresiasi nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, investor meramalkan bahwa bank sentral akan menurunkan nilai tukar mata uang domestik maka sebelum depresiasi tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga luar negeri atau . Pada transisi waktu depresiasi, ekspektasi investor terhadap tingkat bunga domestik adalah uncovered interest parity, yaitu Peningkatan tingkat bunga domestik dari merupakan kompensasi atas ekspektasi kerugian dalam memegang mata uang domestik via-a’-vis mata uang luar negeri. Konsekuensi dari peningkatan tingkat bunga domestik sebagai berikut.
Persamaan (27)
Permintaan uang riil turun dan inflasi domestik konstan pada tingkat inflasi internasional tertentu. Jika bank sentral secara kontinu menciptakan kredit, cadangan internasional akan turun dan krisis neraca pembayaran akan terjadi. Investor akan membeli mata uang asing secara massal dan capital outflows berhenti jika tingkat bunga domestik dapat mengkompensasi seluruh ekspektasi kerugian dari memegang mata uang domestik.
PENDEKATAN PASAR ASET DAN TEORI NERACA PEMBAYARAN JANGKA PENDEK
Pendekatan pasar aset dan moneter terhadap neraca pembayaran dapat dihubungkan dengan beberapa persamaan berikut.
Persamaan (28a)
; keseimbangan pasar uang.
Persamaan (28b)
; fungsi permintaan agregat.
Persamaan (28c)
; fungsi penawaran agregat jangka pendek.
Persamaan (28d)
; persamaan neraca pembayaran.
masing-masing adalah absorpsi otomatis, trade balance otomatis, dan nilai tukar riil mata uang domestik Persamaan (28a) dan (28b) dikombinasikan untuk menentukan permintaan agregat, yaitu keseimbangan jangka pendek menentukan titik potong Yd dan Ys. Keseimbangan ini menghasilkan surplus atau defisit neraca pembayaran yang dijelaskan pada persamaan (28d). Pendekatan moneter digunakan pada persamaan (28a), sedangkan keseimbangan penawaran dan permintaan uang menentukan keseimbangan neraca pembayaran seperti berikut.
Persamaan (29)
Menurut persamaan (29), peningkatan pendapatan mengakibatkan perbaikan neraca pembayaran karena permintaan uang naik. Persamaan (28d) menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan meningkatkan impor dan memperburuk neraca pembayaran. Kedua pernyataan ini tidak mengakibatkan konflik pengaruh terhadap neraca pembayaran. Model permintaan dan penawaran akan menentukan output dan harga pasar. Model permintaan menjelaskan perilaku konsumen, sedangkan model penawaran menjelaskan perilaku produsen, sedangkan interaksi keduanya menghasilkan keseimbangan harga dan output. Analog dengan model permintaan dan penawaran, hubungan positif antara neraca pembayaran dan pendapatan (29), serta hubungan negatif antara neraca pembayaran dan pendapatan (28d) akan menghasilkan keseimbangan jangka pendek neraca pembayaran, yaitu B* dan Y*.
PENDEKATAN ELASTISITAS, ABSORPSI, DAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pendekatan elastisitas terhadap neraca pembayaran menekankan suatu analisis eksplisit terhadap ekspor dan impor suatu negara. Akibatnya, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara ekspor (X) dan impor (M) sebagai berikut.
Persamaan (30)
Pendekatan elastisitas ditujukan pada masalah dampak depresiasi, yaitu perubahan nilai tukar mata uang mempengaruhi terms of trade serta dampaknya terhadap ekspor, impor, dan neraca perdagangan. Efek pendapatan dari depresiasi dianalisis dari pendekatan elastisitas. Di sini, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara pendapatan dan absorpsi domestik sebagai berikut.
Persamaan (31)
Depresiasi menurut persamaan (31) akan memperbaiki neraca perdagangan selama pengeluaran relatif terhadap pendapatan turun. Pada kenyataannya, depresiasi mempunyai efek pendapatan dan efek harga relatif dengan implikasi bahwa pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat diintegrasikan, seperti pada persamaan (28d). Pada persamaan tersebut, efek pendapatan (Y) dan harga relatif (q) mempengaruhi neraca perdagangan (T) seperti berikut.
Persamaan (32)
Secara keseluruhan, pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat digunakan terhadap neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (33)
Dari persamaan (33), ditunjukkan tidak ada masalah dengan pendekatan elastisitas, pendekatan absorpsi, atau pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran. Ketiga pendekatan tersebut konsisten satu sama lain. Ketiga pendekatan tersebut hanya berbeda dalam pendefinisian neraca pembayaran (Firman, 2006).
DOSEN PENGAMPUH :
AHMAD FATHUR ROZI,MM
Di Susun Oleh :
Rezka Titin Porwati 18042053
Erin Novita Sari 18042041
Roudhotul Farikha 18042038
Rizal Zamroni 18042044
Dzonnuar Yudha Prawira 18042002
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN
PRODI MANAJEMEN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami kanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “MEMAHAMI SISTEM MONETER INTERNASIONAL” disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “BISNIS INTERNASIONAL” yang diampu oleh Bapak Muhammad Hafidh Nasrullah.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan makalah ini. Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan kemampuan, pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh sebab itu kami selalu terbuka untuk menerima berbagai kritik dan saran yang membangun kita lebih maju dan berkembang menjadi lebih baik, sehingga kami dapat memperbaiki isi makalah ini serta kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama pembaca. Amin.
Lamongan, 01 November 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
Daftar Isi ii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
BAB II : PEMBAHASAN
Pendekatan Moneter Terhadap neraca pembayaran 3
Mekanisme moneter dari penyesuaian neraca pembayaran 4
Devaluasi pendekatan moneter 7
Pilihan portofolio dalam perekonomian terbuka 8
Pertumbuhan, inflasi, dan rekening uang 10
Ekspetasi perubahan nilai tukar mata uang, tingkat bunga, dan krisis nilai tukar mata uang luar negeri 12
Pendekatan pasar aset dan teori neraca pembayaran jangka pendek 13
Pendekatan elastisitas, absorsi, dan moneter terhadap neraca pembayaran 14
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan 16
Saran 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada modul sebelumnya, dua dekade setelah keruntuhan sistem Bretton Woods masih tetap berlangsung perdebatan mengenai bagaimana bentuk regime kurs mata uang yang terbaik bagi dunia. Sebagian ahli ekonomi memelopori sistem ketika mata uang utama dibiarkan mengambang satu sama lainnya. Sementara itu, ahli ekonomi lainnya berpendapat bahwa lebih baik kembali ke sistem kurs tetap yang mirip dengan sistem Bretton Woods.
Hal ini akan memberikan implikasi dari seluruh bisnis internasional ini, terutama mengenai kebijaksanaan mata uang terhadap praktik bisnis. Kasus nyata, misalnya, kebijakan Pemerintah Meksiko pada Desember 1994 untuk membiarkan peso mengambang secara bebas terhadap dolar US mengakibatkan terjadinya depresiasi nilai dolar dari peso sebesar 40%. Jelas, hal ini sangat merugikan perusahaan-perusahaan yang mengimpor mobil atau suku cadang mobil dari Amerika Serikat (AS) ke Meksiko. Ini menunjukkan betapa rentannya bisnis internasional terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan kurs tukar. Pada saat yang bersamaan, kasus ini mengilustrasikan
bagaimana kebijakan pemerintah tentang kurs dapat menciptakan peluangpeluang bisnis. Dalam jangka panjang, harga peso yang lebih murah akan meningkatkan daya saing dan potensi ekspor dari pabrik-pabrik manufaktur mobil yang berbasis di Meksiko (Rusdin, 2002).
Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja sistem moneter internasional dan untuk menunjukkan implikasinya terhadap bisnis internasional. Untuk memahami bagaimana cara kerja sistem moneter internasional, kita harus mengkaji evolusi dari sistem tersebut.
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN
PENDEKATAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pengembangan pendekatan moneter secara modern terhadap neraca pembayaran dikembangkan antara tahun 1950—1960 oleh IMF, University of Chicago, dan London School of Economics. Studi awal dilakukan oleh Robert Mundell, Harry Johnson, dan J.J. Polak. Generasi berikutnya itu termasuk Rudiger Dornbusch, Jacob Frenkel, Arthur B. Laffer, Michael Mussa, dan masih banyak yang lainnya.
Pendekatan moneter menekankan bahwa neraca pembayaran mencakup fenomena moneter. Masalah neraca pembayaran bukan berarti hanya fenomena moneter, yang dimaksud dalam hal ini adalah peranan uang dalam neraca pembayaran sangat esensial. Pertimbangan moneter dalam neraca pembayaran sangat perlu dalam studi ekonomi terbuka dan neraca pembayaran.
Pasar uang dalam kondisi keseimbangan berarti perubahan permintaan uang kas nominal ((MD) sama dengan perubahan penawaran uang kas nominal ((MS) seperti berikut ini (Firman, 2006).
Persamaan (1)
(MD=(MS
Perubahan pendapatan, tingkat bunga, dan faktor lainnya akan mempengaruhi permintaan uang kas nominal. Misalnya, jika pendapatan individu semakin tinggi, individu tersebut menginginkan aset moneter yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika tingkat bunga semakin tinggi, aset yang menghasilkan bunga semakin tinggi dan permintaan uang kas nominal semakin rendah. Perubahan penawaran uang proporsional dengan perubahan high-powered money ((H), yaitu penjumlahan perubahan cadangan internasional dari bank sentral ((IR) dan perubahan kredit bank sentral ((CBC), sebagai berikut.
Persamaan (2)
(MS=
Konsep neraca pembayaran yang digunakan dan yang relevan dengan proses penawaran uang adalah rekening uang dalam neraca pembayaran (), yaitu . Persamaan (2) dapat dituliskan menjadi berikut ini.
Persamaan (3)
Surplus atau defisit rekening uang berhubungan dengan penciptaan kredit bank sentral sebagai sumber perubahan penawaran uang. Substitusi persamaan (3) ke (1) diperoleh sebagai berikut.
Persamaan (4)
Maka itu, neraca pembayaran dapat didefinisikan menjadi berikut ini.
Persamaan (5)
Persamaan (5) menjelaskan jika berarti perubahan permintaan uang kas nominal lebih besar daripada perubahan kredit bank sentral. Sebaliknya, berarti perubahan kredit bank sentral lebih besar dari perubahan permintaan uang . Persamaan (5) berarti penawaran uang yang diciptakan bank sentral pada periode tertentu yang tidak diminta oleh penduduk domestik akan mempengaruhi defisit neraca pembayaran. Penduduk domestik yang mempunyai kelebihan kas akan membeli barang atau aset luar negeri dengan menggunakan mata uang luar negeri. Penduduk domestik akan menjual mata uang domestik untuk membeli mata uang internasional. Akibatnya, bank sentral akan kehilangan cadangan internasional, rekening uang kas mengalami defisit, dan akhirnya neraca pembayaran defisit dalam mata uang domestik. Kelebihan uang kas nominal yang dipegang oleh penduduk domestik dapat digunakan untuk membeli barang dan aset luar negeri sehingga neraca pembayaran mengukur pembelian barang luar negeri secara neto dan aset luar negeri secara neto seperti berikut.
Persamaan (6)
adalah masing-masing definisi dari neraca perdagangan dan neraca modal. Dari penjelasan di atas, pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran, jika hanya mencakup fenomena moneter, tidak mencukupi karena aktivitas program keuangan pemerintah tidak dimasukkan sebagai variabel yang penting dalam pembahasan neraca pembayaran.
MEKANISME MONETER DARI PENYESUAIAN NERACA PEMBAYARAN
Gangguan-gangguan ekonomi internasional dalam jangka panjang akan mempengaruhi faktor-faktor moneter yang respek terhadap neraca pembayaran. Misalnya, perubahan harga, tingkat bunga, pengangguran, output, dan berbagai faktor lainnya yang berhubungan. Dengan asumsi bahwa suatu negara adalah price taker dalam perdagangan barang dan aset luar negeri, harga barang domestik ekuivalen dengan harga luar negeri dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, absorpsi domestik riil , yaitu pengeluaran untuk barang domestik dan luar negeri, dipengaruhi oleh aset yang dipegang oleh penduduk domestik seperti berikut.
Persamaan (7)
masing-masing adalah absorpsi otomatis, output agregat riil, tingkat bunga domestik nominal, serta wealth dan indeks harga domestik, masing-masing parameter positif yang menjelaskan bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang tinggi serta tingkat bunga yang rendah mendorong peningkatan pengeluaran domestik riil. Pendekatan wealth dalam penentuan pengeluaran domestik disarankan oleh . Pigou yang dikenal dengan efek. Pigou. Misalnya, konsumsi penduduk yang telah pensiun dibiayai oleh aset atau wealth yang dikumpulkan selama hidup. Misalkan, aset yang dipegang oleh penduduk adalah aset moneter sehingga W/P = M/P. Dalam kasus ini, perdagangan internasional dalam aset nonmoneter diabaikan sehingga neraca modal tidak muncul dan neraca pembayaran sama dengan neraca perdagangan. Oleh sebab itu, penyesuaian neraca pembayaran dengan aset berupa uang dan penghilangan pengaruh tingkat bunga (tidak adanya substitusi antara uang dan obligasi) sebagai berikut.
Persamaan (8)
Output riil sama dengan output potensial dan P ditentukan oleh harga internasional P. Secara grafis, mekanisme penyesuaian moneter secara murni terhadap neraca perdagangan sebagai berikut.
Gambar 7.1
Garis menjelaskan hubungan positif antara wealth dan pengeluaran konsumsi. Itu artinya peningkatan saldo kas riil yang dipegang oleh penduduk akan meningkatkan pengeluaran konsumsi, sedangkan yang lainnya konstan. Garis horizontal menjelaskan tingkat absorpsi dan hubungannya dengan tingkat output atau pendapatan pada full-employment. Defisit atau surplus neraca perdagangan ditentukan oleh jarak vertikal antara garis AA dan garis. Jarak titik B-C menjelaskan defisit neraca perdagangan suatu perekonomian karena absorpsi lebih besar dari tingkat pendapatan atau output pada full-employment atauT = Y – A. Pada posisi defisit neraca perdagangan, aset moneter selalu lebih besar dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih besar dari tingkat pendapatan atau output agregat. Pembiayaan kelebihan pengeluaran ini akan mengurangi aset yang dipegang dan mengurangi saldo moneter. Jika diasumsikan bank sentral pasif, penawaran uang akan berkurang. Sebaliknya, surplus neraca perdagangan dijelaskan oleh aset moneter selalu lebih kecil dari aset moneter (M/P)e atau pengeluaran domestik lebih kecil dari tingkat pendapatan atau output agregat. Oleh sebab itu, keseimbangan eksternal ditunjukkan oleh titik E seperti berikut.
Persamaan (9)
Ae adalah tingkat absorpsi domestik pada tingkat saldo kas riil domestik (M/P)e. Dari persamaan (9), diperoleh stok uang kas riil pada keseimbangan eksternal sebagai berikut.
Persamaan (10)
Persamaan (10) ini menjelaskan permintaan uang kas riil dalam jangka panjang atau target jumlah uang kas riil yang beredar. Masalahnya, berapa lama penyesuaian moneter mencapai external balance? Hal ini tergantung pada seberapa cepat penduduk domestik menyesuaikan saldo uang kas mereka. Dengan asumsi bank sentral bertindak pasif, perubahan saldo uang kas terjadi melalui neraca perdagangan, yaitu neraca perdagangan merupakan kelebihan atas absorpsi domestik berikut.
Persamaan (11)
Karena persamaan (10) menjelaskan e dan substitusi ke-(k) diperoleh berikut ini.
Persamaan (12)
Persamaan (7) menjelaskan bahwa penyesuaian dalam wealth moneter dalam kasus neraca perdagangan merupakan perbedaan proporsi antara keseimbangan stok uang jangka panjang yang dipegang (M/P)e dengan stok uang aktual yang dipegang waktu tertentu (M/P). Penyesuaian jangka panjang ini disebut stock adjustment mechanism yang menjelaskan bagaimana penduduk domestik merespons ketidakseimbangan temporer sektor moneter. Persamaan (7) menunjukkan dua faktor menentukan speed perubahan yang terjadi dalam aset moneter berikut.
Perbedaan antara stok uang aktual (M/P) dan stok uang yang diinginkan (M/P)e. Semakin besar perbedaan (M/P) dengan (M/P)e, semakin lama penyesuaian keseimbangan neraca perdagangan.
Nilai parameter : dari persamaan (12) ditunjukkan bahwa menjelaskan fraksi dari perbedaan stok uang yang diinginkan dengan stok uang aktual. Semakin besar ., semakin cepat penyesuaian terhadap keseimbangan jangka panjang.
Persamaan (11) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap output potensial (YF), absorpsi otomatis (A), atau penawaran uang riil (W/P) akan mengganggu keseimbangan neraca perdagangan dan neraca pembayaran suatu perekonomian.
DEVALUASI PENDEKATAN MONETER
Tingkat harga umum domestik menjelaskan biaya pembelian sekelompok barang oleh konsumen domestik. Harga domestik (P) dipengaruhi oleh pembelian komoditas yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor . Persamaannya sebagai berikut.
Persamaan (13)
P = +
adalah pangsa konsumsi domestik yang dapat diekspor, sedangkan adalah pangsa konsumsi yang dapat diimpor. Jika suatu negara adalah price taker, harga impor sama dengan harga impor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik dan harga ekspor sama dengan harga ekspor internasional dikalikan dengan nilai tukar mata uang domestik , yaitu [P*M dan P*X] dalam nilai mata uang asing. Berdasarkan proposisi tersebut, harga domestik sebagai berikut.
Persamaan (14)
Dari persamaan (14), diketahui bahwa devaluasi peningkatan e (nilai mata uang domestik) akan meningkatkan harga domestik, P. Konsekuensinya, nilai saldo uang kas riil turunpadakeseimbangan awal yang dijelaskan pada gambar berikut. Penurunan aset moneter riil dari (M/P)e ke tingkat yang lebih rendah menyebabkan penurunan pengeluaran domestik. Oleh sebab itu, devaluasi pada awalnya akan meningkatkan surplus neraca perdagangan, yaitu sebesar . Surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran akan mendorong penawaran uang sehingga surplus neraca tersebut akan hilang karena absorpsi naik sampai surplus tersebut habis pada (M/P)e. Walaupun harga domestik naik akibat devaluasi, harga relatif ekspor dengan impor internasional (P*X/P*M) tidak terpengaruh. Devaluasi akan meningkatkan harga ekspor dan impor dalam mata uang domestik dengan proporsi yang sama sebagai berikut.
Hal ini merupakan salah satu outcome dari pendekatan moneter yang harga relatif domestik antara impor dan ekspor tidak berubah. Akibatnya, dalam jangka panjang, neraca perdagangan atau pembayaran kembali seimbang. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 7.2
PILIHAN PORTOFOLIO DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA
Penduduk domestik dapat memegang wealth moneter atau aset finansial, uang (M/P), dan obligasi (V) sebagai berikut.
Persamaan (15)
W / P = M / P + V
Ada dua keputusan yang dibuat dalam hal-hal berikut. (1) Berapa ukuran portofolio (berapa banyak wealth yang harus dipegang) dan (2) bagaimana komposisi aset yang dipegang (tipe aset yang akan dipegang).
Gambar berikut ini menjelaskan absorpsi dan kondisi full employment, yaitu wealth mencakup aset nonmoneter. Ukuran portofolio yang diinginkan penduduk domestik adalah (W/P)e. Pada titik E, tingkat wealth sebesar (W/P)e pendapatan sama dengan absorpsi dan neraca perdagangan seimbang. Jika total wealth yang diinvestasikan sebesar (W/P)e, kombinasi obligasi dan uang dijelaskan oleh garis slope negatif yang dinamakan wealth constraint line. Persamaan garis ini adalah (W/P)e = M/P + V atau persamaan (16).
Persamaan (16)
V=(W / Pe – M / P )
Pada tingkat (W/P)e tertentu, peningkatan obligasi terjadi jika uang kasriil yang dipegang turun, (W/P)e = M/P maka V = 0 (titik potong pada garis horizontal) dan (W/P)e = V sehingga M/P = 0 (titik potong pada garis vertikal). Kombinasi lain antara uang dan obligasi terjadi pada wealth constraint line. Investor melakukan diversifikasi aset dengan pertimbangan risiko, return, dan karakteristik lainnya. Berdasarkan karakteristik ini, proporsi obligasi terhadap uang ditunjukkan oleh parameter y berikut.
Persamaan (17)
V = ( M/P )
Diasumsikan y tetap karena dipengaruhi oleh faktor lainya, misalnya tingkat bangsa. Misalnya = 2, persamaan (17) menjadi V = 2 (M/P), artinya setiap rupiah dalam aset moneter nilai obligasi yang dipegang sebesar 2. Pada gambar berikut ini terlihat bahwa slope persamaan (17) adalah y dan positif yang disebut portfolio diversification line.
Gambar 7.3
` Secara umum, penduduk domestik akan memegang obligasi dan uang.Obligasi dapat terdiri atas obligasi domestik dan luar negeri. Kembali ke konsep dasar neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (18)
Pada seksi ini, diabaikan. Misalkan, terjadi peningkatan penawaran uang secara tiba-tiba dengan cara pencetakan uang baru. Ada dua kemungkinan mekanisme untuk mengubah uang kas yang dipegang. Pertama, membeli barang atau komoditas luar negeri. Mekanisme ini akan mengakibatkan defisit neraca perdagangan dan dengan sendirinya mengurangi ukuran total portofolio. Neraca perdagangan defisit menyebabkan pengurangan total aset domestik melalui portfolio size adjustment mechanism. Kedua, kelebihan uang digunakan untuk membeli obligasi atau aset luar negeri yang ditunjukkan oleh defisit neraca modal.Penukaran uang dengan mencakup aset luar negeri tidak mengubah ukuran total portofolio, hanya mengubah komposisi uang dan obligasi (uang makin kecil dan obligasi makin besar). Kedua mekanisme di atas dapat digunakan untuk menghilangkan kelebihan saldo uang kas.
Mekanisme komposisi portofolio biasanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat pendek,sedangkan mekanisme ukuran portofolio terjadi dalam jangka waktu yang panjang karena terjadi melalui perubahan relatif antara pengeluaran dan pendapatan. Hal ini merupakan perbedaan utama antara portfolio size mechanism dan portfolio composition mechanism. Pada gambar berikut, ditunjukkan keseimbangan penuh terjadi pada titik E dengan ukuran portofolio sebesar (W/P)e. Pada titik tersebut, jumlah obligasi sebesar Ve dan uang kas riil sebesar (M/P)e, titik C. Ketika bank sentral mencetak uang baru, uang kas riil naik dari (M/P)e ke sehingga stok aset keuangan naik dari (W/P)e ke . Pencetakan uang baru akan menyebabkan kelebihan uang kas yang dipegang dari titik C ke titik D. Titik D menjelaskan ketidakseimbangan portofolio karena terletak jauh di luar portfolio diversification line.
Gambar 7.4
Penduduk ingin mengubah komposisi portofolio dengan cara mengubah uang dengan obligasi dan menyebabkan defisit neraca modal, yaitu perpindahan dari titik D ke F. Penyesuaian saldo kas melalui transaksi modal
mengubah komposisi portofolio, sepanjang portfolio diversification line perekonomian tidak berubah ke tingkat ukuran portofolio yang diinginkan, titik F. Kelebihan uang kas secara aktual mengakibatkan penggantian uang dengan obligasi, yaitu total aset yang dipegang masih lebih tinggi dari tingkat yang diinginkan. Penyesuaian komposisi portofolio menjelaskan perekonomian berada pada tingkat yang lebih besar dari (W/P)e. Penyesuaian ukuran portofolio akan mengarah pada tingkat awal, yaitu dari titik E dan C. Artinya, pembelian bersih barang luar negeri akan menghabiskan kelebihan aset yang dipegang. Hal ini merefleksikan defisit neraca perdagangan yang dijelaskan perpindahan dari titik F ke titik C.
Mekanisme ukuran portofolio dan komposisi portofolio ini menyimpulkan bahwa mekanisme moneter dan nonmoneter dalam jangka panjang mengakibatkan perekonomian mencapai keseimbangan. Kelebihan uang kas akibat pencetakan uang baru akan habis dibelanjakan dan mengakibatkan neraca perdagangan dan pembayaran semakin buruk dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang kembali mengalami keseimbangan. Penyesuaian neraca pembayaran menjelaskan perubahan komposisi portofolio yang beroperasi melalui neraca modal dan perubahan ukuran portofolio beroperasi melalui neraca perdagangan yang mengakibatkan ukuran portofolio turun.
PERTUMBUHAN, INFLASI, DAN REKENING UANG
Pasar aset berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui rekening uang pada neraca pembayaran. Tingkat pertumbuhan uang dalam keseimbangan sebagai berikut.
Persamaan (19)
. Jika money multiplier berubah, pembayaran eksternal tidak seimbang dan penciptaan kredit bank sentral akan menambah penawaran uang. Efek terhadap pertumbuhan penawaran uang dijelaskan sebagai berikut.
Persamaan (20)
sehingga proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money sebagai berikut.
Persamaan (21)
menunjukkan proporsi neraca pembayaran terhadap high powered money dipengaruhi oleh money multiplier dari penawaran uang dan pertumbuhan kredit dari bank sentral. Pertumbuhan money multiplier dan kredit dari bank sentral akan memperburuk neraca pembayaran dan peningkatan permintaan uang akan memperbaiki neraca pembayaran. Permintaan uang riil dan permintaan uang nominal masing-masing sebagai berikut.
Persamaan (22)
atau pertumbuhan permintaan uang: MD = Ld + P. Permintaan uang riil [Ld] merupakan fungsi dari pendapatan dan tingkat bunga sehingga pertumbuhan permintaan uang seperti berikut.
Persamaan (23)
masing-masing adalah elastisitas permintaan uang riil terhadap pendapatan dan tingkat bunga. Substitusi persamaan (23) ke pertumbuhan permintaan uang nominal diperoleh berikut ini.
Persamaan (24)
Secara ekstrem, penggunaan persamaan (24) dalam penentuan neraca pembayaran mengandung berbagai alasan. Pertama, pengaruh berbagai pertumbuhan variabel ekonomi terhadap neraca pembayaran membantu analisis neraca pembayaran. Kedua, dapat digunakan pengambil keputusan untuk menganalisis dampak program keuangan terhadap neraca pembayaran. Ketiga, basis untuk membuktikan pendekatan moneter secara empiris. Persamaan (x) dapat digunakan untuk target pertumbuhan kredit bank sentral dan hubungannya dengan neraca pembayaran. Misalkan, banksentral menargetkan pertumbuhan kredit bank sentral sebesar 4% dan H = Rp 100 miliar.
Dengan menggunakan persamaan (6) di atas diperoleh
atau
Rp 8.9 miliar (surplus neraca pembayaran)
Persamaan (24) juga dapat digunakan untuk mencapai keseimbangan eksternal pada tingkat fixed exchange rate, yaitu neraca pembayaran sama dengan nol (external balance).
Persamaan (25)
Persamaan (25) menjelaskan tingkat pertumbuhan kredit bank sentral untuk menjaga agar neraca pembayaran tetap seimbang dalam jangka panjang. Dari contoh di atas, diperoleh bahwa pertumbuhan kredit bank sentral tiap tahun sebesar 13.5% agar neraca pembayaran seimbang. Nobel laureate dari Milton Friedman menyarankan kebijakan moneter yang dinamakan monetary rule agar stok uang ditingkatkan pada tingkat yang tetap sepanjang waktu, tanpa variasi siklus. Hal ini berbeda dengan monetary rule yang kita diskusikan, yaitu central bank credit dinaikkan pada tingkat yang tetap. Salah satu tujuan monetary rule dari Friedman adalah menjaga.stabilitas harga, yaitu peningkatan penawaran uang akan menyebabkan inflasi. Akibatnya, peningkatan stok uang harus dijaga sehingga pada tingkat rata-rata kestabilan harga output stabil. Dari persamaan (25), ditunjukkan bahwa tujuan jangka panjang adalah keseimbangan eksternal, tanpa pengendalian terhadap tingkat inflasi. Dalam perekonomian terbuka, pertumbuhan penawaran uang tidak mempunyai efek kausal yang jelas terhadap inflasi domestik.
EKSPEKTASI PERUBAHAN NILAI TUKAR MATA UANG, TINGKAT BUNGA, DAN KRISIS NILAI TUKAR MATA UANG LUAR NEGERI
Ekspektasi berhubungan erat dengan penyesuaian portofolio dan neraca pembayaran. Ekspektasi nilai tukar mata uang masuk secara langsung pada analisis melalui penentuan tingkat bunga domestik yang disebut uncovered interest parity condition sebagai berikut.
Persamaan (26)
i* dan x masing-masing adalah tingkat bunga luar negeri dan ekspektasi depresiasi nilai tukar mata uang domestik. Misalkan, investor meramalkan bahwa bank sentral akan menurunkan nilai tukar mata uang domestik maka sebelum depresiasi tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga luar negeri atau . Pada transisi waktu depresiasi, ekspektasi investor terhadap tingkat bunga domestik adalah uncovered interest parity, yaitu Peningkatan tingkat bunga domestik dari merupakan kompensasi atas ekspektasi kerugian dalam memegang mata uang domestik via-a’-vis mata uang luar negeri. Konsekuensi dari peningkatan tingkat bunga domestik sebagai berikut.
Persamaan (27)
Permintaan uang riil turun dan inflasi domestik konstan pada tingkat inflasi internasional tertentu. Jika bank sentral secara kontinu menciptakan kredit, cadangan internasional akan turun dan krisis neraca pembayaran akan terjadi. Investor akan membeli mata uang asing secara massal dan capital outflows berhenti jika tingkat bunga domestik dapat mengkompensasi seluruh ekspektasi kerugian dari memegang mata uang domestik.
PENDEKATAN PASAR ASET DAN TEORI NERACA PEMBAYARAN JANGKA PENDEK
Pendekatan pasar aset dan moneter terhadap neraca pembayaran dapat dihubungkan dengan beberapa persamaan berikut.
Persamaan (28a)
; keseimbangan pasar uang.
Persamaan (28b)
; fungsi permintaan agregat.
Persamaan (28c)
; fungsi penawaran agregat jangka pendek.
Persamaan (28d)
; persamaan neraca pembayaran.
masing-masing adalah absorpsi otomatis, trade balance otomatis, dan nilai tukar riil mata uang domestik Persamaan (28a) dan (28b) dikombinasikan untuk menentukan permintaan agregat, yaitu keseimbangan jangka pendek menentukan titik potong Yd dan Ys. Keseimbangan ini menghasilkan surplus atau defisit neraca pembayaran yang dijelaskan pada persamaan (28d). Pendekatan moneter digunakan pada persamaan (28a), sedangkan keseimbangan penawaran dan permintaan uang menentukan keseimbangan neraca pembayaran seperti berikut.
Persamaan (29)
Menurut persamaan (29), peningkatan pendapatan mengakibatkan perbaikan neraca pembayaran karena permintaan uang naik. Persamaan (28d) menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan meningkatkan impor dan memperburuk neraca pembayaran. Kedua pernyataan ini tidak mengakibatkan konflik pengaruh terhadap neraca pembayaran. Model permintaan dan penawaran akan menentukan output dan harga pasar. Model permintaan menjelaskan perilaku konsumen, sedangkan model penawaran menjelaskan perilaku produsen, sedangkan interaksi keduanya menghasilkan keseimbangan harga dan output. Analog dengan model permintaan dan penawaran, hubungan positif antara neraca pembayaran dan pendapatan (29), serta hubungan negatif antara neraca pembayaran dan pendapatan (28d) akan menghasilkan keseimbangan jangka pendek neraca pembayaran, yaitu B* dan Y*.
PENDEKATAN ELASTISITAS, ABSORPSI, DAN MONETER TERHADAP NERACA PEMBAYARAN
Pendekatan elastisitas terhadap neraca pembayaran menekankan suatu analisis eksplisit terhadap ekspor dan impor suatu negara. Akibatnya, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara ekspor (X) dan impor (M) sebagai berikut.
Persamaan (30)
Pendekatan elastisitas ditujukan pada masalah dampak depresiasi, yaitu perubahan nilai tukar mata uang mempengaruhi terms of trade serta dampaknya terhadap ekspor, impor, dan neraca perdagangan. Efek pendapatan dari depresiasi dianalisis dari pendekatan elastisitas. Di sini, neraca perdagangan merupakan perbedaan antara pendapatan dan absorpsi domestik sebagai berikut.
Persamaan (31)
Depresiasi menurut persamaan (31) akan memperbaiki neraca perdagangan selama pengeluaran relatif terhadap pendapatan turun. Pada kenyataannya, depresiasi mempunyai efek pendapatan dan efek harga relatif dengan implikasi bahwa pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat diintegrasikan, seperti pada persamaan (28d). Pada persamaan tersebut, efek pendapatan (Y) dan harga relatif (q) mempengaruhi neraca perdagangan (T) seperti berikut.
Persamaan (32)
Secara keseluruhan, pendekatan elastisitas dan pendekatan absorpsi dapat digunakan terhadap neraca pembayaran sebagai berikut.
Persamaan (33)
Dari persamaan (33), ditunjukkan tidak ada masalah dengan pendekatan elastisitas, pendekatan absorpsi, atau pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran. Ketiga pendekatan tersebut konsisten satu sama lain. Ketiga pendekatan tersebut hanya berbeda dalam pendefinisian neraca pembayaran (Firman, 2006).
Langganan:
Komentar (Atom)